Tentang Ikhlas: Pentingnya Ikhlas Selama Bulan Ramadhan
Ikhwati fillah,
Yang sangat penting untuk kita lakukan adalah musabah.
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Periksa, periksa! Apa yang harus selalu diperika? Bekal taqwa anda!
Ikhwani fillah,
Maka, satu diantara yang harus kita periksa adalah Ramadhan kita, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan emas, amal-amal yang telah diterangkan kepada kita segala macam bentuk amal Ramadhan yang sangat luar biasa.
Lihatlah! Perhatikanlah! Apa yang telah anda lakukan!? Dan buah-buah apa yang telah Anda dapatkan !?
Karena sesungguhnya didalam pendidikan Tarbiyah Ramadhan, ada pendidikan-pendidikan yang sangat bermanfaat yang akan mewujudkan kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat. Diantaranya adalah pendidikan Ikhlas, pendidikan seorang untuk betul-betul menjadi seorang yang Mukhlis.
Lihat juga: Kumpulan Ceramah Singkat dan Praktis
Sebagaimana hadits yang tadi disebutkan, bagaimana kita tiap hari, siang-malam siang-malam, diajak untuk diingatkan Ikhlas, Ikhlas, Ikhlas!
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” (HR. Bukhari)
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa melakukan shalat malam pada Bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala maka diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. An-Nasa’i)
Ketahuilah Ikhwati fillah, bahwa Ikhlas adalah betul-betul sumber kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia, saudaraku? Yang pertama, hanya dengan ikhlas Anda akan menjadi orang yang selamat dari upaya penyesatan syaithon. Padahal MasyaAllah, syaithon telah menargetkan dan memprediksi dan telah dibenarkan prediksinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan banyak manusia yang tidak selamat dari penyesatan syaithon.
لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Akan kami sesatkan semua manusia, Yaa Allah”
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Syaithon akan mendatangi manusia dari arah depan, dari arah belakang, dari arah kanan, dari arah kiri, semua akan digunakan untuk menyesatkan manusia dan target syaithon kebanyakan (Yaa Allah, akan Engkau dapatkan kebanyakan mereka tidak akan bersyukur kepada-Mu ) alias rata-rata kufur, baik kufur yang mengeluarkan dari Islam atau kufur nikmat, mereka tidak menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ikhwati Fillah,
Syaithon akan memasang segala macam bentuk jerat, cara-cara dan kiat-kiat bagaimana menenggelamkan manusia dalam kelalaian kepada akhirat. Bagaimana membuat manusia tenggelam dalam hingar bingarnya dunia. Bagaimana manusia dibuat berat dengan amal-amal taat. Bagaimana manusia dibuat terdorong kuat untuk melakukan maksiat. Maka syaithon akan membuat manusia demikian, akan tetapi ada hamba-hamba Allah yang akan selamat dari jerat-jerat syaithon.
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ﴿٨٣﴾
“Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas” (QS. Shad[38]: 83)
Hamba Allah yang Mukhlis, yang ikhlas dalam menjalani kehidupan agamanya, Maka dia adalah hamba yang akan selamat dari upaya penyesatan syaithon, dan ini luar biasa. Karena belum tentu ‘ulama selamat, apalagi Juhala’ (red: orang bodoh), orang tua, anak-anak muda, semuanya target. Dan syaithon tidak akan melepas Anda sampai kesempatan terakhir sakaratul maut, syaithon tidak akan melepas anda!
Maka pendidikan Ikhlas menjadi faktor yang sangat besar seseorang untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.
Ramadhan: Wasiat Para Salaf Beserta Hadits Menjaga Lisan
Pemirsa yang dirahmati Allah Ta’ala,
Kita akan melihat bagaimana para Salaf (orang-orang shalih terdahulu) dalam masalah menjaga lisan. Ini pekerjaan yang sangat berat, sangat sulit, karena lisan ini barangnya kecil tetapi hasilnya bisa sangat luar biasa. Dan sesungguhnya lisan ini asalnya merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang Allah katakan:
وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ ﴿٩﴾
“lidah dan dua buah bibir.” (QS. Al-Balad[90]: 9)
Allah memberikan kita lisan dan dua bibir yang dengan lisan ini masyaAllah, kebaikan besar akan terwujud. Bukankah manusia dia mengenal tauhid, dia mengenal sunnah, dia mengenal jalan Islam, dia bisa menjauhi syirik, mengenal bahayanya syirik, bahayanya bid’ah, bahayanya maksiat, membedakan jalan yang haq dengan yang batil, itu semuanya adalah karena lisan? Yaitu adanya para pendakwah, adanya para guru, adanya para ulama, yang dengan lisannya menyampaikan al-haq, sehingga kita mengenal kebenaran melalui mereka. Sehingga lisan memiliki manfaat yang sangat besar.
Akan tetapi jika lisan tidak terkendali, maka justru lisan ini akan menjadi malapetaka besar. Sehingga orang terjerumus dalam perbuatan syirik, terjerumus dalam perbuatan kekafiran, kemunafikan, bid’ah dan maksiat. Itu semuanya adalah gara-gara lisan. Yaitu dimana lisan menjelaskan dan menyihir manusia sampai orang tertipu hingga mereka mulai tenggelam dalam berbagai macam perbuatan penyimpangan-penyimpangan agama.
Agama kita Islam, ajaran Al-Qur’an dan Sunnah sangat perhatian besar berkaitan dengan masalah menjaga lisan. Dan diantar rusaknya puasa kita ini adalah juga gara-gara lisan. Dimana orang tidak mampu menjaga lisan yang buruk, tidak mampu menjaga omongan yang buruk, sehingga puasanya tidak bermakna dan tidak mendapatkan pahala sama sekali. Bukankah kita telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengatakan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Lihat juga: Kumpulan Ceramah Singkat dan Praktis
“Berapa banyak orang mereka berpuasa dan dia tidak mendapatkan bagian puasanya kecuali hanya lapar dan haus.” (HR. Thabrani)
Padahal puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ
“Setiap amal anak Adam dilipat menjadi 10 sampai 700 kali lipat.”
Lalu tentang puasa apa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala?
إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Kecuali puasa, puasa itu untukKu aan Aku sendiri yang akan mengganjar puasa itu.”
Sehingga puasa ini adalah amalan yang istimewa. Pahalanya sangat luar biasa. Tapi kok sampai ada orang yang berpuasa ternyata tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Apa sebabnya? Sebabnya adalah kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْل فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang dia dengan puasanya, dia tidak meninggalkan perkataan dusta, perkataan buruk, perkataan jelek dan perbuatan-perbuatan kejelekan, Allah tidak membutuhkan dalam hal dia meninggalkan makan dan minum.”
Dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus karena dia tinggalkan makan minum. Sehingga Nabi pun katakan:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
“Puasa bukan sekedar dengan meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi puasa itu adalah dengan cara meninggalkan lagwu (segala hal yang sia-sia, segala hal yang tidak ada gunanya, apalagi yang haram), demikian pula meninggalkan rofats(omongan pornografi yang bisa membangkitkan syahwat)” (HR. Ibnu Majah)
Ini adalah hakikat puasa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah kita akan lihat bagaimana wasiat para Salaf kita dalam hal menjaga lisan ini.
Wasiat Para Salaf dalam Hal Menjaga Lisan
Kita akan sampaikan disini beberapa riwayat yang berkaitan dengan حِفْظُ اللِّسَانِ (menjaga lisan), khususnya di bulan Ramadhan saat kita sedang menunaikan ibadah puasa. Di antara sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Barangsiapa salah satu di antara kalian di pagi hari dalam kondisi berpuasa, maka jangan berkata jorok dan jangan bersikap bodoh. Kalau ada seseorang yang menghardiknya atau menghinanya maka katakan kepadanya, sesungguhnya saya sedang puasa, sesungguhnya saya sedang puasa.” (HR. Muslim)
Penjelasan:
Apabila seorang sedang berpuasa pada harinya, jangan berbuat rofats(segala ungkapan yang berkaitan dengan pornografi, yang membangkitkan syahwat, ungkapan-ungkapan yang menunjukkan tentang unsur pornografi), dan jangan pula berbuat bodoh baik dalam omongan maupun perbuatan-perbuatan yang menunjukkan kebodohan dia yang tidak tahu ilmu tentang agama, yakni perbuatan-perbuatan jelek, buruk, yang bertentangan dengan agama. Kalau ada orang yang mencacinya atau mengajak berkelahi, katakanlah, “aku puasa, aku puasa.
Para ulama menerangkan kepada kita bahwa kalimat إِنِّي صَائِمٌ yaitu orang menegaskan kepada dirinya bahwa dia sedang berpuasa dan tidak melayani segala ajakan-ajakan buruk, ajakan-ajakan jelek, tidak akan ngomong yang buruk, tidak akan melakukan perbuatan yang jelek, dia tidak akan terprovokasi, dia sedang puasa. Sehingga dia mengatakan, “Saya sedang puasa, saya tidak boleh melakukan perbuatan yang bodoh.”
Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:
ليس الصيام من الطعام والشراب وحده ولكنه من الكذب والباطل واللغو والحلف
“Puasa bukan semata-mata hanya meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi puasa itu harus meninggalkan dusta, meninggalkan perbuatan sia-sia, kebatilan-kebatilan”
Pada waktu puasa, hal ini harus lebih ditinggalkan. Dusta, kebatilan, perbuatan lagwu, diluar Ramadhan wajib kita tinggalkan. Tapi di bulan Ramadhan, penekanannya lebih lagi. Sebagaimana Allah ketika bicara masalah haji.
فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Jangan rofats, jangan fusuq, jangan jidal didalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)
Diluar haji, hal ini sudah tidak diperbolehkan. Tapi dalam haji, lebih ditekankan lagi. Demikian juga ketika dikatakan untuk meninggalkan dusta, kebatilan, perbuatan lagwu dan sebagainya itu, ini semuanya di luar Ramadhan sudah tidak diperbolehkan. Tapi ketika Ramadhan, ketika sedang berpuasa, ini hendaknya lebih ditinggalkan lagi.
Demikian pula Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan:
أن الصيام ليس من الطعام والشراب ولكن من الكذب والباطل واللغو
“Sesungguhnya puasa itu bukan hanya dengan meninggalkan makan dan minum semata akan tetapi puasa itu dengan meninggalkan kebatilan dan kesia-siaan”
Oleh karena itulah Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma -semoga Allah meridhai dia dan ayahnya- beliau mengatakan:
إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمآثم ودع أذى الخادم وليكن عليك وقار وسكينة يوم صيامك ولا تجعل يوم فطرك ويوم صيامك سواء .
Apabila kamu sedang berpuasa, hendaklah berpuasa pula pendengaran Anda, penglihatan Anda, lisan Anda. Berpuasa dari perbuatan-perbuatan dusta. Sehingga waktu kita berpuasa bukan sekedar meninggalkan makan dan minum. Tapi hendaknya dia puasakan dari memandang segala hal yang haram, telinga dia hendaknya dia puasakan dari mendengarkan segala hal yang haram. Demikian pula lisan dia, dia betul-betul tahan, jangan mengucapkan kalimat-kalimat yang haram.
Dan beliaupun berpesan untuk meninggalkan pula perbuatan menyakiti pembantu, menyakiti tetangga, jadikan Anda menjadi lebih berwibawa di waktu puasa Anda. Sehingga Anda tampil tenang, Anda tampil berwibawa dengan banyak diam, banyak meninggalkan dosa, karena kewibawaan itu diantaranya dengan cara demikian.
Dan beliau katakan, “Jangan kamu samakan antara hari ketika Anda berpuasa dengan hari Anda berbuka.” Jadikan hari berpuasa Anda betul-betul lebih menampakan kehebatan Anda sebagai orang yang berwibawa, meninggalkan yang haram, diam dari segala perbuatan yang tidak bermanfaat.
Demikian wasiat para Salaf kita, dan tentu masih sangat banyak. Oleh karena itulah mudah-mudahan Allah memudahkan kita di bulan Ramadhan dengan menjaga lisan kita. Inilah faktor yang bisa menjadikan puasa kita rusak karena tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan haram berkaitan dengan lidah dan lisan kita.
Dan berapa banyak orang ditelungkupkan ke neraka karena hasil panen lisan mereka?
Bulan Pembebasan Dari Neraka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Wahai para pencari kebaikan, sambutlah datangnya Ramadhan, wahai para pemburu keburukan, hentikan keburukan Anda. Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang Allah bebaskan diri neraka dan itu Allah lakukan pada setiap malam.”
Para pemirsa yang dirahmati Allah, itulah diantara penggalan hadits yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana seorang Malaikat menyeru setelah diterangkan sekian banyak keutamaan Ramadhan. Dimana:
- Allah membuka semua pintu surga yang 8, tidak ada yang ditutup sama sekali,
- Allah menutup semua pintu neraka yang 7, dan tidak ada yang dibuka sama sekali,
- Allah membelenggu gembong-gembong setan,
- Allah mengadakan suatu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan,
- Allah Subhanahu wa Ta’ala serukan kepada para pencari kebaikan dengan segala kebaikan di bulan Ramadhan, يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ
Sudah selayaknya seorang Mukmin, dia berlomba dan bersemangat di bulan Ramadhan, mewujudkan semuanya yang akan memberikan keuntungan kepada dia dan perkara yang akan bisa membebaskan dia dari ancaman jahanam.
Seorang Mukmin sudah selayaknya bermimpi dan bercita-cita, bagaimana setiap hari setiap malam menjadi hamba yang dimasukkan oleh Allah dalam deretan orang-orang yang dibebaskan dari neraka.
Sebab-Sebab Terbebas dari Neraka
Tentu terbebasnya dari neraka bukan begitu saja, tapi dengan sebab-sebab. Secara umum sebab-sebab seorang terbebas dari api neraka adalah:
1. Tauhid
Pertama, ini yang menentukan atau yang menjadi syarat mutlak. Yaitu dengan tauhid. Tauhid adalah menjadikan totalitas penghambaan kita hanya kepada Allah Ta’ala, tidak menjadikan sekutu bagi Allah, baik meyakini ada semisal Allah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, ada Illah selain Allah atau dia berkeyakinan ada makhluk yang layak dijadikan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lihat juga: Kumpulan Ceramah Singkat dan Praktis
Itulah tauhid. Tauhid ini yang akan menjadi jaminan seorang mendapatkan jannah dan mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seandainya Allah memerintahkan kepada kita:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾
“Dan bersegeralah Anda meraih ampunan Allah dan bersegeralah Anda mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah sediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali-Imran[3]: 133)
Maka tauhid adalah dasar mendapatkan ampunan Allah dan dasar untuk dimasukkannya ke dalam jannah sebagaimana Nabi tegaskan:
مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang dia mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah sama sekali, maka dia pasti masuk surga. Dan barangsiapa yang dia mati tapi dia menyekutukan Allah, pasti dia masuk neraka.” (HR. Muslim)
Sebuah kepastian, masuk surga atau neraka yaitu dengan tauhid. Orang yang mempunyai tauhid, pasti masuk surga. Walaupun masuk surga ada beberapa tingkatan; ada yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, ada yang masuk surga dengan hisab dan dia tidak diadzab, ada yang masuk surga namun diadzab dulu di jahannam lalu Allah keluarkan dan Allah masukkan ke dalam surga, itulah diantaranya yang dikatakan Jahannamiyyun (mantan-mantan jahannam).
Tauhid adalah jaminan untuk mendapatkan ampunan Allah Ta’ala. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membawakan hadits qudsi, hadits yang diriwayatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَني بِقُرابٍ الأَرْضِ خطايَا، ثُمَّ لَقِيتَني لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لأَتَيْتُكَ بِقُرابِها مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, seandainya Anda datang kepadaKu dengan dosa sebesar bumi, tapi anda datang kepadaku tanpa menyekutukanKu sama sekali, akan aku datangkan ampunan sebesar dosa yang Anda bawa.” (HR. Tirmidzi)
Tauhid, jaminan diampunkannya dosa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lihat juga: Manfaat Mempelajari Ilmu Tauhid
2. Amal Shalih
Kedua, dengan kita memperbanyak amal shalih. Karena seluruh amal shalih adalah akan membebaskan kita dari jahannam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan.” (QS. Hud[11]: 114)
Keburukan, ancamannya adalah nereka. Dan dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan. Maka shaum kita, apa kata Nabi?
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
“Barangsiapa yang dia berpuasa di bulan Ramadhan, berangkat dari iman, yang mendorongnya untuk berpuasa adalah iman, karena dia beriman kepada Allah, karena dia mengagungkan Allah, maka dia melaksanakan perintah Allah berangkat dari iman, dia menyambut seruan Allah Ta’ala,”
Dan,
احْتِسَابًا,
“dia hanya berharap apa yang ada di sisi Allah, dia betul-betul ikhlas dalam beramal, dia tidak riya’, tidak ingin mencari pujian manusia, bukan karena dunia, tapi احْتِسَابًا, mencari pahala akhirat yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala,”
Barangsiapa yang dia puasanya seperti ini, maka dia:
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Akan diampunkan oleh Allah dosanya yang lalu dan akan datang.”
Apa yang telah kemarin, maka telah diampunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian pula:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Siapa yang dia shalat malam (Qiyamul Lail) di bulan Ramadhan, berangkat dari iman, karena ruh keimanan dia, dan dalam rangka hanya mencari keutamaan atau pahala yang Allah janjikan, maka dia pun akan diampunkan dosanya yang telah lalu.”
Demikian pula:
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ القَدْرِ ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa menegakkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisaban, maka dia diampunkan Allah, dosa yang telah lalu.”
Semua amal shalih adalah penghapus dosa apabila dilakukan dengan إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا. Maka perbanyaklah amal shalih dalam rangka membebaskan diri kita dari neraka.
3. Taubat
Ketiga, amal besar yang akan membebaskan dari neraka adalah taubat dan istighfar. Meminta ampun kepada Allah dan memperbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghapuskan apa yang telah lalu.
Taubat dilakukan dengan cara dia ikhlas taubatnya karena Allah, dia sesali perbuatannya, dia tinggalkan perbuatannya, dia berazzam untuk tidak mengulanginya, dia lakukan diwaktu diterimanya taubat oleh Allah Subhanahu Ta’ala. Maka ini amalan-amalan besar yang akan bisa membebaskan kita dari jahannam.
Jadikan Ramadhan semangat untuk kita terbebas dari jahannam. Karena sungguh seandainya kita tidak terbebas dari jahannam, maka segala apa yang kita miliki dari dunia tidak bisa kita pakai untuk menebus kesulitan di hari akhirat kelak.
وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Setiap malam, Allah memiliki hamba-hamba yang dimerdekakan dari neraka. Demikian itu pada setiap malam.” (HR. Tirmidzi)
Maka jadilah kita di antara mereka. Semoga Allah memudahkan.
Ramadhan: Manusia Yang Merugi di Bulan Ramadhan
Tentu satu hal yang tidaklah kita ragukan bahwasanya berjumpa dengan Ramadhan adalah satu nikmat yang besar. Akan tetapi orang yang mendapatkan nikmat yang besar ini, belum tentu dia menjadi manusia yang beruntung. Boleh jadi ada orang berjumpa dengan Ramadhan dan dia menjadi manusia yang celaka. Dan sungguh betapa celakanya orang yang semacam ini. Allah berikan kepadanya nikmat yang besar, namun dia malah menjadi manusia yang celaka dalam nikmat besar dalam nikmat besar yang Allah berikan kepadanya.
Siapakah orang yang menjadi manusia yang celaka, manusia yang merugi, pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat besar kepadanya?
Hal ini telah Nabi jelaskan dalam satu hadits yang shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh celaka seorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berakhir dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Tirmidzi)
Demikian yang Nabi sampaikan.
Manusia yang celaka di bulan Ramadhan, manusia yang celaka dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang besar untuk dirinya adalah orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun ketika Ramadhan berakhir ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya.
Padahal selama bulan Ramadhan terdapat banyak amal yang jika dikerjakan akan menyebabkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semisal amal berupa puasa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
Lihat juga: Kumpulan Ceramah Singkat dan Praktis
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa dengan motivasi yang benar karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah ampuni dosa-dosanya yang lewat.”
Demikian juga Qiyam Ramadhan, Nabi katakan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang shalat tarawih di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah ampuni dosa-dosanya yang lewat.”
Demikian juga shalat dimalam hari saat Lailatul Qadar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِسَاباً، غُفِر لَهُ مَا تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ
“Siapa yang mengerjakan shalat dimalam hari dan malam tersebut bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni dosa-dosa yang lewat.”
Terdapat banyak amal yang disyariatkan di bulan Ramadhan yang menjadi sebab terampuninya dosa. Namun ternyata ada orang yang Ramadhan berakhir dan Allah Subhanahu wa Ta’ala belum mengampuni dosa-dosanya. Maka sungguh dia adalah orang yang teledor, sungguh dia adalah orang yang ceroboh.
Waktu yang Allah berikan demikian panjang. Satu bulan lamanya, boleh jadi 29 hari, menjadi 30 hari. Ternyata dari sekian waktu lamanya ini dengan terdapat berbagai macam amal didalamnya yang itu adalah amal-amal yang menghapus dosa, ternyata tidak mendapatkan bagian dari orang-orang yang mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka berarti, sungguh puasanya adalah puasa yang sangat tidak berkualitas, shalat malamnya adalah shalat malam yang betu-betul tidak ada nilainya dan tidak ada harganya, shalat tarawihnya adalah shalat tarawih yang tidak ada faidahnya, dia hanya mendapat capek saja dari shalat tarawih yang dia lakukan tersebut. Yang dia dapatkan dari puasa yang dia kerjakan hanya lapar dan dahaga semata.
Inilah manusia yang celaka pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepadanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita semuanya dari keadaan tragis semacam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar