Sabtu, 07 Februari 2026

Menjaga Waktu.

 AA. Menjaga Waktu adalah aset berharga yang harus digunakan untuk hal bermanfaat.


Konteks Perilaku:

 Selain mengejek, mereka juga menunjukkan permusuhan terhadap kaum muslimin, yang merupakan ciri perilaku orang-orang yang tidak mau beriman. 


Dasar

Perintah Menjauhi Teman Buruk: Rasulullah SAW bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”.

Pengaruh Lingkungan: Seseorang cenderung mengikuti agama (kebiasaan/karakter) teman dekatnya. Teman yang buruk berpotensi menjauhkan diri dari Allah.

Bahaya Egoisme (Ananiah): Sifat egois adalah penyakit hati yang dibenci Allah dan dapat membuat hati mati.

Menghindari Kesia-siaan (Jahil): Islam melarang menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia (laghwi). atau hal tidak berfaedah, keluar adalah jalan yang baik. 


A.

Selain menjadikan ajaran agama sebagai ejekan, sikap buruk lain dari mereka dan yang sering dapat disaksikan adalah apabila kamu menyeru mereka dengan azan untuk melaksanakan salat, maka mereka akan menjadikannya sebagai bahan ejekan dan permainan. Perilaku mereka yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka merupakan orang-orang yang tidak mengerti.


1.Pertama, Kita hidup ini pasti memerlukan dan diperlukan oleh orang lain, betapa pun kecilnya peran kita. Karena itulah manusia suka berinteraksi, berteman dan bersahabat makanya manusia dikenal (makhluk suka berinteraksi dengan orang lain). Untuk itu harus kita ketahui tipikal orang yang akan dijadikan teman atau sahabat, agar tidak salah berteman/bersahabat. Maka topik kita hari ini adalah Tipikal Orang yang Tidak Bisa Jadi Sahabat, antara lain, pertama, orang yang sombong dan takabur, yaitu mereka yang menghargai diri sendiri secara berlebihan, congkak, angkuh dan pongah sehingga menganggap rendah, remeh dan melecehkan orang lain. Inilah karakter Iblis yang dilaknat oleh Allah dan Allah sangat benci dengan orang yang sombong bahkan akan menempatkan mereka nanti di jahanam, seperti Firman Allah: “Dan (ingatlah) ketika Kami (Allah) berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan sombong/takabur” (QS al-Baqarah: 34).


Di ayat lainnya Allah berfirman, “Dikatakan (kepada mereka ahli Jahanam): "Masukilah melalui pintu-pintu neraka Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri (QS al-Zumar: 72). 


Artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelummu dan orang-orang kafir, sebagai teman setia(-mu). Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin".(QS. Al Maidah : 57).


Artinya:

 Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.


Artinya :

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.

(QS. Al Maidah : 58).



Kemudian, pada ayat yang lain lagi, Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku (Allah) menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah" (QS al-`Araf: 12).


2.Kedua, tipe orang pendengki atau hasad (iri), adalah suatu watak seseorang yang tidak memiliki keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, materi dan lainnya, tetapi menginginkan yang tidak dimiliki itu diperolehnya, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangan dan jatuh kepadanya atau kepada yang lain. Karena kalau kita bersahabat dengan orang seperti ini mereka akan selalu berusaha menghancurkan dan menjatuhkan kita supaya apa yang kita miliki menjadi lenyap. Hasad ini akan memakan amal ibadah kita layaknya api memakan kayu yang kering. Karakter ini juga menyamai watak Iblis yang harus kita jauhi, seperti firman Allah:


.“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain”

 (QS al-Nisa`: 32)

 dan “Iblis menjawab:

 "Karena Engkau (Allah) telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar/pasti akan (menghalang-halangi/menghancurkan) mereka manusia dari jalan Engkau yang lurus

 (QS al-`Araf: 16).


Firman-Nya lagi,

 “Dan Kami (Allah) berfirman:

 "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula seperti di surga” (QS al-Baqarah: 35-36).


3.Ketiga, orang yang suka merendahkan, memandang sebelah mata dan menilai bodoh orang lain, walaupun sebenarnya mereka belum tentu juga lebih segalanya. Padahal Allah melarang kita berbuat yang demikian itu, seperti Firman-Nya:


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok laki-laki merendahkan/melecehkan kelompok laki-laki lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik mereka” (QS al-Hujarat: 11).


4.Keempat, orang yang suka mencurigai, pembuka aib dan mencari-cari kesalahan orang lain. Tipe orang seperti ini akan membuat kita serba salah. Kita berbuat baik, dia selalu curiga dan mencari kekurangan kita, kita berbuat kurang baik dia tidak terima dan menjadikan kekurangan itu bukti kecurigaannya. Padahal kalau mau transparan dan jernih, belum tentu dia berbuat baik dan ikhlas, boleh jadi sebagai tameng, kedok dan pamer. Karakter ini bagaikan orang yang sedang menunjuk satu jari terarah kepada orang lain dan jari-jari lainnya mengarah pada dirinya sendiri. Allah melarang kita curiga, mencari-cari kesalahan orang lain dan fitnah, sebagaimana firman-Nya:


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah suka mencari-cari keburukan/kesalahan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain” (QS al-Hujarat: 12).


Kelima, Mereka yang suka meledek dan mengolok-olok agama dan keyakinan kita baik agama atau beda agama dengan kita, seperti Firman Allah:


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi sahabat/teman baik, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) (QS al-Maidah: 57).


#Risiko Bubarnya Komunitas Akibat Ego dan Aspirasi yang Tersumbat#




Rentan perpecahan karena banyak perbedaaan. 


Komunitas seringkali dimulai dari sebuah mimpi sederhana yaitu sekumpulan orang dengan minat atau visi yang sama berkumpul untuk menciptakan ruang aman, berbagi hobi, atau memperjuangkan misi tertentu utamanya membangun persaudaraan. Namun, sejarah mencatat bahwa musuh terbesar komunitas bukanlah tekanan dari luar, melainkan keroposnya fondasi dari dalam. Saat pengurus mulai memandang jabatan sebagai takhta kekuasaan dan mengabaikan aspirasi anggotanya, komunitas tersebut sebenarnya sedang menghitung hari menuju kehancuran.


Sebelum membedah kehancuran bubarnya komunitas, kita perlu memahami apa yang menyatukan sebuah komunitas. Berorganisasi bukan sekadar menyusun struktur “Ketua, Sekretaris, Bendahara.” Ada kontrak sosial tak tertulis yang menjadi nyawa komunitas:


Pertama, Kesamaan Tujuan. Komunitas adalah wadah untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai sendirian.


Kedua, Kesetaraan. Meski ada hierarki struktural untuk efisiensi koordinasi, secara esensial setiap anggota memiliki martabat yang sama.


Ketiga, Kepercayaan. Anggota menyerahkan mandat kepada pengurus dengan kepercayaan bahwa pengurus akan bertindak demi kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi.


Keempat, Komunikasi Dua Arah. Organisasi yang sehat adalah organisme yang bernapas. Aspirasi dari anggota adalah oksigen, dan respons dari pengurus adalah aliran darahnya.


Masalah dimulai ketika pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Masalah dimulai ketika para pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi melalui keputusan sepihak, kurangnya transparansi, dan keengganan menerima kritik. Ketika jabatan dianggap hak istimewa, bukan amanah, pengurus lebih fokus mempertahankan posisi daripada melayani anggota. Akibatnya, suasana kerja sama berubah menjadi kompetisi dan kecurigaan. Komunitas yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama justru terjebak konflik internal.


Untuk mencegahnya, diperlukan budaya rendah hati, akuntabilitas, dan pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan penguasaan.

Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi dalam beberapa gejala:

Sentralisasi Keputusan: Pengurus mengambil langkah besar tanpa konsultasi atau transparansi.


Kritik Dianggap Serangan: Alih-alih melihat masukan sebagai bahan evaluasi, pengurus yang egois melihatnya sebagai upaya makar atau pembangkangan.


Eksklusivitas Informasi: Hanya segelintir “ring satu” yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara anggota dibiarkan dalam kegelapan.


Ketika pengurus merasa lebih pintar atau lebih berjasa daripada anggotanya, mereka menciptakan tembok tebal yang menyumbat aspirasi. Padahal, sebuah komunitas hanya akan relevan jika ia mampu menangkap kebutuhan anggotanya yang terus berubah.


Komunitas adalah sekumpulan orang, berkumpulnya banyak pemikiran dan perbedaan. Sehingga perlu kecerdasan berkenaan dengan apa yang terjadi jika suara anggota terus-menerus diabaikan? Terjadi sebuah proses pelapukan yang sistematis:


Pertama, Apatisme dan Penurunan Partisipasi. Langkah awal menuju bubarnya komunitas bukanlah pertengkaran hebat, melainkan heningnya suasana. Anggota yang merasa suaranya tidak didengar akan mulai berpikir, “Untuk apa saya memberi saran jika tidak pernah dianggap?” Mereka tetap ada di grup WhatsApp atau daftar anggota, tetapi secara emosional mereka sudah keluar.


Kedua, Munculnya Faksi dan “Grup di dalam Grup”. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh didengar. Jika wadah utama (komunitas) gagal menyediakan telinga, anggota akan mencari telinga lain. Munculah faksi-faksi kecil yang biasanya disatukan oleh rasa kecewa yang sama terhadap pengurus. Ini adalah awal dari perpecahan (skisma).


Ketiga, Eksodus Anggota Potensial. Ironisnya, mereka yang paling vokal memberikan aspirasi biasanya adalah orang-orang yang paling peduli. Ketika mereka pergi karena lelah berbenturan dengan ego pengurus, komunitas kehilangan aset terbaiknya. Yang tersisa hanyalah pengurus dan pengikut yang “asal bapak senang,” yang tidak memiliki daya kritis untuk memajukan organisasi.


Risiko Terburuk: Komunitas bisa “mati” dalam dua cara. Pertama, secara formal, di mana organisasi resmi dibubarkan atau pengurus mengundurkan diri massal. Kedua, dan yang paling sering terjadi, adalah mati secara fungsional. Organisasinya masih ada, namanya masih tercatat, tetapi tidak ada kegiatan, tidak ada semangat, dan tidak ada manfaat yang dirasakan. Ia menjadi “organisasi zombie.”


Bubarnya komunitas karena ego pengurus meninggalkan luka sosial yang dalam. Kepercayaan antar individu rusak, dan seringkali anggota menjadi trauma untuk bergabung dengan komunitas lain di masa depan.


Solusinya, menata ulang kembali ke semangat “Pelayan, Bukan Raja”, untuk mencegah kehancuran, perlu ada reorientasi total dalam cara pandang pengurus:


Pertama, Kepemimpinan Melayani. Pengurus harus sadar bahwa posisi mereka adalah beban tanggung jawab, bukan fasilitas untuk pamer kekuasaan.

Kedua, Saluran Feedback yang Jelas yakni adanya saluran resmi dan aman bagi anggota untuk menyampaikan keluh kesah tanpa takut diintimidasi atau dikucilkan.

Ketiga, Transparansi, yakni masalah keuangan dan kebijakan strategis harus dibuka sejelas-jelasnya. Kecurigaan biasanya lahir dari ketidaktahuan.

Keempat, Regenerasi yang sehat yakni ego seringkali muncul dari pengurus yang terlalu lama menjabat dan merasa tak tergantikan. Batasan masa jabatan adalah cara terbaik menjaga sirkulasi ide tetap segar.

Nah dari sinilah, kita perlu mempertegas pemahaman bahwa sebuah komunitas berdiri di atas bahu anggotanya, bukan di atas kepala pengurusnya. Ego adalah racun yang paling cepat membunuh solidaritas. Jika pengurus lebih mencintai jabatan mereka daripada tujuan komunitas itu sendiri, maka bubarnya komunitas hanyalah masalah waktu.


Organisasi yang hebat bukanlah yang tidak pernah punya konflik, melainkan yang mampu mengelola konflik tersebut dengan cara mendengarkan, merangkul, dan menampung aspirasi terkecil sekalipun dari anggotanya. Karena pada akhirnya, komunitas adalah tentang “kita,” bukan tentang “saya” atau “mereka.”


#Risiko Bubarnya Komunitas Akibat Ego dan Aspirasi yang Tersumbat#




Rentan perpecahan karena banyak Perbedaaan. Komunitas seringkali dimulai dari sebuah mimpi sederhana yaitu sekumpulan orang dengan minat atau visi yang sama berkumpul untuk menciptakan ruang aman, berbagi hobi, atau memperjuangkan misi tertentu utamanya membangun persaudaraan. Namun, sejarah mencatat bahwa musuh terbesar komunitas bukanlah tekanan dari luar, melainkan keroposnya fondasi dari dalam. Saat pengurus mulai memandang jabatan sebagai takhta kekuasaan dan mengabaikan aspirasi anggotanya, komunitas tersebut sebenarnya sedang menghitung hari menuju kehancuran.


Sebelum membedah kehancuran bubarnya komunitas, kita perlu memahami apa yang menyatukan sebuah komunitas. Berorganisasi bukan sekadar menyusun struktur “Ketua, Sekretaris, Bendahara.” Ada kontrak sosial tak tertulis yang menjadi nyawa komunitas:


Pertama, Kesamaan Tujuan. Komunitas adalah wadah untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai sendirian.


Kedua, Kesetaraan. Meski ada hierarki struktural untuk efisiensi koordinasi, secara esensial setiap anggota memiliki martabat yang sama.


Ketiga, Kepercayaan. Anggota menyerahkan mandat kepada pengurus dengan kepercayaan bahwa pengurus akan bertindak demi kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi.


Keempat, Komunikasi Dua Arah. Organisasi yang sehat adalah organisme yang bernapas. Aspirasi dari anggota adalah oksigen, dan respons dari pengurus adalah aliran darahnya.


Masalah dimulai ketika pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Masalah dimulai ketika para pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi melalui keputusan sepihak, kurangnya transparansi, dan keengganan menerima kritik. Ketika jabatan dianggap hak istimewa, bukan amanah, pengurus lebih fokus mempertahankan posisi daripada melayani anggota. Akibatnya, suasana kerja sama berubah menjadi kompetisi dan kecurigaan. Komunitas yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama justru terjebak konflik internal.


Untuk mencegahnya, diperlukan budaya rendah hati, akuntabilitas, dan pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan penguasaan.

Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi dalam beberapa gejala:

Sentralisasi Keputusan: Pengurus mengambil langkah besar tanpa konsultasi atau transparansi.


Kritik Dianggap Serangan: Alih-alih melihat masukan sebagai bahan evaluasi, pengurus yang egois melihatnya sebagai upaya makar atau pembangkangan.


Eksklusivitas Informasi: Hanya segelintir “ring satu” yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara anggota dibiarkan dalam kegelapan.


Ketika pengurus merasa lebih pintar atau lebih berjasa daripada anggotanya, mereka menciptakan tembok tebal yang menyumbat aspirasi. Padahal, sebuah komunitas hanya akan relevan jika ia mampu menangkap kebutuhan anggotanya yang terus berubah.


Komunitas adalah sekumpulan orang, berkumpulnya banyak pemikiran dan perbedaan. Sehingga perlu kecerdasan berkenaan dengan apa yang terjadi jika suara anggota terus-menerus diabaikan? Terjadi sebuah proses pelapukan yang sistematis:


Pertama, Apatisme dan Penurunan Partisipasi. Langkah awal menuju bubarnya komunitas bukanlah pertengkaran hebat, melainkan heningnya suasana. Anggota yang merasa suaranya tidak didengar akan mulai berpikir, “Untuk apa saya memberi saran jika tidak pernah dianggap?” Mereka tetap ada di grup WhatsApp atau daftar anggota, tetapi secara emosional mereka sudah keluar.


Kedua, Munculnya Faksi dan “Grup di dalam Grup”. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh didengar. Jika wadah utama (komunitas) gagal menyediakan telinga, anggota akan mencari telinga lain. Munculah faksi-faksi kecil yang biasanya disatukan oleh rasa kecewa yang sama terhadap pengurus. Ini adalah awal dari perpecahan.


Ketiga, Eksodus Anggota Potensial. Ironisnya, mereka yang paling vokal memberikan aspirasi biasanya adalah orang-orang yang paling peduli. Ketika mereka pergi karena lelah berbenturan dengan ego pengurus, komunitas kehilangan aset terbaiknya. Yang tersisa hanyalah pengurus dan pengikut yang “asal bapak senang,” yang tidak memiliki daya kritis untuk memajukan organisasi.


Risiko Terburuk: Komunitas bisa “mati” dalam dua cara. Pertama, secara formal, di mana organisasi resmi dibubarkan atau pengurus mengundurkan diri massal. Kedua, dan yang paling sering terjadi, adalah mati secara fungsional. Organisasinya masih ada, namanya masih tercatat, tetapi tidak ada kegiatan, tidak ada semangat, dan tidak ada manfaat yang dirasakan. Ia menjadi “organisasi zombie.”


Bubarnya komunitas karena ego pengurus meninggalkan luka sosial yang dalam. Kepercayaan antar individu rusak, dan seringkali anggota menjadi trauma untuk bergabung dengan komunitas lain di masa depan.


Solusinya, menata ulang kembali ke semangat “Pelayan, Bukan Raja”, untuk mencegah kehancuran, perlu ada reorientasi total dalam cara pandang pengurus:


Pertama, Kepemimpinan Melayani. Pengurus harus sadar bahwa posisi mereka adalah beban tanggung jawab, bukan fasilitas untuk pamer kekuasaan.

Kedua, Saluran Feedback yang Jelas yakni adanya saluran resmi dan aman bagi anggota untuk menyampaikan keluh kesah tanpa takut diintimidasi atau dikucilkan.

Ketiga, Transparansi, yakni masalah keuangan dan kebijakan strategis harus dibuka sejelas-jelasnya. Kecurigaan biasanya lahir dari ketidaktahuan.

Keempat, Regenerasi yang sehat yakni ego seringkali muncul dari pengurus yang terlalu lama menjabat dan merasa tak tergantikan. Batasan masa jabatan adalah cara terbaik menjaga sirkulasi ide tetap segar.

Nah dari sinilah, kita perlu mempertegas pemahaman bahwa sebuah komunitas berdiri di atas bahu anggotanya, bukan di atas kepala pengurusnya. Ego adalah racun yang paling cepat membunuh solidaritas. Jika pengurus lebih mencintai jabatan mereka daripada tujuan komunitas itu sendiri, maka bubarnya komunitas hanyalah masalah waktu.


Organisasi yang hebat bukanlah yang tidak pernah punya konflik, melainkan yang mampu mengelola konflik tersebut dengan cara mendengarkan, merangkul, dan menampung aspirasi terkecil sekalipun dari anggotanya. Karena pada akhirnya, komunitas adalah tentang “kita,” bukan tentang “saya” atau “mereka.”


A.

#Meninggalkan grup yang didalamnya terdapat perilaku egoisme, toksik, atau tidak menghargai orang lain adalah keputusan yang tepat demi menjaga kesehatan mental dan ketenangan diri. Sifat egois yang berlebihan dalam kelompok dapat merusak kerja sama, menciptakan permusuhan, dan merugikan anggota lain. 

Berikut adalah panduan bijak untuk meninggalkan grup yang egois:


1. Cara Keluar dengan Elegan dan Sopan (Tanpa Drama)

Kirim Pesan Pamit Singkat,

Gunakan Fitur "Exit Group" Diam-diam,

Jelaskan Alasan (Jika Perlu): Jika ditanya, katakan bahwa grup tersebut tidak lagi memberikan kedamaian atau energi positif bagi Anda.

Jangan Terburu-buru: Tidak perlu keluar saat emosi tinggi. Ambil jeda sejenak, tenangkan diri, baru kemudian keluar. 


2. Alasan Mengapa Harus Keluar

Kesehatan Mental: Grup toksik dapat menyebabkan stres dan menguras emosi.

Egoisme yang Merusak: Anggota yang selalu ingin menang sendiri dan tidak peduli pendapat orang lain akan mengikis rasa percaya diri Anda.

Lebih Baik Sendiri/Cari Lingkungan Baru: Lebih baik tidak memiliki grup daripada terjebak dalam lingkungan yang merugikan, merendahkan, atau menyebarkan kebencian. 

3. Setelah Keluar

Blokir atau Mute: Jika anggota grup tetap mengganggu secara pribadi, jangan ragu untuk keluar dan lupakan.

Fokus pada Diri Sendiri: Belajar mencintai diri sendiri dan cari komunitas atau lingkaran pertemanan yang lebih suportif. 

Tindakan meninggalkan grup adalah hak Anda untuk menetapkan batas agar tidak diinjak-injak oleh ego orang lain. 


B.

#Dalam pandangan Islam, meninggalkan grup (lingkungan pertemanan) yang didalamnya terdapat sifat egois (ananiah), jahat, dan jahil (bodoh/sia-sia) adalah tindakan yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan jika grup tersebut membawa dampak negatif bagi agama dan mental Anda. Islam sangat menekankan pentingnya memilih teman yang baik karena teman memiliki pengaruh besar terhadap agama seseorang. 

Berikut adalah pandangan Islam dan panduan meninggalkan lingkungan tersebut:


1. Dasar Pembenaran dalam Islam

Perintah Menjauhi Teman Buruk: Rasulullah SAW bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”.

Pengaruh Lingkungan: Seseorang cenderung mengikuti agama (kebiasaan/karakter) teman dekatnya. Teman yang buruk berpotensi menjauhkan diri dari Allah.

Bahaya Egoisme (Ananiah): Sifat egois adalah penyakit hati yang dibenci Allah dan dapat membuat hati mati.

Menghindari Kesia-siaan (Jahil): Islam melarang menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia (laghwi). Jika grup WhatsApp/komunitas penuh dengan ghibah, fitnah, atau hal tidak berfaedah, keluar adalah jalan yang baik. 


2. Cara Meninggalkan Grup Secara Islami (Adab)

Meskipun lingkungan tersebut buruk, tetap disarankan untuk meninggalkan dengan cara yang baik (baik-baik) tanpa harus memutuskan silaturahmi secara total.

Mohon Izin/Pamit: Jika memungkinkan, sampaikan izin untuk keluar dengan sopan, maaf saya izin keluar dari grup ini karena kesibukan dan ingin fokus ke hal lain. 

Gunakan 'Silent Exit': Ini efektif menghindari konflik atau perdebatan yang sia-sia.

Jaga Lisan dan Sikap: Tidak perlu menjelek-jelekkan grup tersebut setelah keluar. 


3. Mengapa Harus Keluar?

Melindungi Agama dan Mental: Lingkungan toxic (egois/jahat) dapat membuat stres, minder, dan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah.

Menjaga Waktu: Waktu adalah aset berharga yang harus digunakan untuk hal bermanfaat.

Lingkungan yang Lebih Baik: Islam mendorong kita bergaul dengan orang yang membawa dampak positif (mengingatkan kepada Allah). 

Kesimpulan:

Meninggalkan grup yang penuh dengan keburukan, keegoisan, dan kejahilan adalah bentuk menjaga diri (iffah) dan menjaga agama agar tetap berada dalam lingkungan yang sehat. Ini bukan berarti memutus silaturahmi, melainkan membatasi diri dari pengaruh buruk (cut-off toxic friendship).


Semoga kita dilindungi dari sifat-sifat yang demikian dan dijauhkan dari tipikal sahabat yang berwatak tidak baik itu. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Waktu.

 AA. Menjaga Waktu adalah aset berharga yang harus digunakan untuk hal bermanfaat. Konteks Perilaku:  Selain mengejek, mereka juga menunjukk...