PENGERTIAN SHALAT
[shalat]; bahasa Arab: ٱلصَّلَاة aṣ-ṣalāh, bahasa Arab: ٱلصَّلَوَات aṣ-ṣalawāt; disebut juga: solat, sholat, shalat) merujuk kepada ibadah pemeluk agama Islam.
Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah.[1] Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
"...dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)."
— Al-'Ankabut 29:45
- Berdo’a/ Memohon Kepada Alloh SWT.
- Berbakti/ Menyembah Kepada Alloh SWT.
- Mi’roj ( Naik ) Dan Menghadap Kepada Alloh SWT.
- Bermunajat / Berbisik Kepada Alloh SWT.
- Pertemuan Manusia/Hamba Kepada Alloh SWT.
Kenapa Manusia Harus Melaksanakan Sholat ?
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Bersyahadat.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Beragama Islam.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Pengakuan Iman.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Kebaikan/Ihsan.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Mengingat ( Berdzikir ) Dan Mencintai Alloh SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Melaksanakan Perintah Alloh SWT dan Rosullulloh SAW.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Melaksanakan, MengESAkan, MengAgungkan, dan MeMahaSucikan Alloh SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Berbakti, Dan Menyembah Kepada Alloh SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam BerAkhlaq Mulia
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Kesadarannya Sebagai Hamba Alloh SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam menetapi perkara Haq/Beramal Sholih dan Kesabarannya.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Mensyukuri Nikmat Dari Allah SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Menyadari/Mengakui Kebodohan, Kekurangan, Kelemahan diri ini, Dan Ketergantungan diri untuk Alloh SWT.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Bertaubat.
- Sebagai Tanda Bukti Kebenarannya/Kesungguhannya dalam Menghormati, Menghargai, Dan Berbuat Baik untuk sesama manusia.
Tanda Diatas ialah tanda diri anda sebagai insan yang perlu kepada Alloh SWT yang membuat segala alam semesta ini
Dawuh Guruku : Walaupun Seluruh Dunia Dan Semesta Alam ini tidak terdapat yang bersujud, Alloh Tetap Mulia, Alloh Tetap Kuasa, Alloh Tetap Agung, Allah Tetap Perkasa, Karena Sejatinya Dzat Alloh lah Yang Menciptakan Kita Ini Tidak Butuh Bukti KepadaNYA, Dan Kitalah Yang Butuh Alloh SWT Yang Maha Kuasa Diatas Segalanya.
Rukun SHALAT
Ada 13 Rukun Dalam Sholat Yaitu :
- Niyat
- Takbirotul Ihrom
- Berdiri Tegak Lurus
- Membaca Surat Al Fatihah
- Ruku’ Dengan Tumakninah, Tumakninah tersebut Artinya : ( Tenang Lahir Dan Batinnya )
- I’tidal ( Bangun Dari Ruku’ )
- Sujud Dengan Tumakninah
- Lungguh Dengan Tumakninah ( Lungguh Artinya Duduk Diantara 2 Sujud )
- Duduk Tahiyat Akhir
- Membaca Tasyahhud
- Membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW Pada Tasyahud Akhir
- Salam Pertama
- Tertib ( Artinya Melakukan Sesuatu Yang Dimulai Dari Allah dan RosulNYA )
Apabila ketinggalan di antara rukunnya dengan sengaja maka sholatnya batal.
Rukun Dalam Shalat
Syarat Wajib Shalat
- Sampai Dakwah Islam Kepadanya
- Ada Pendengaran
- Islam
- Berakal ( Sadar )
- Baligh ( Jika Perempuan Sudah Menstruasi, Jika Lelaki Sudah Mimpi Basah )
Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Najah melafalkan ada 3 (tiga) urusan yang menandai bahwa seorang anak telah memasuki akil baligh.
تمام خمس عشرة سنة في الذكر والأنثى والاحتلام في الذكر والأنثى لتسع سنين والحيض في الأنثى لتسع سنين
“Ketiga tanda baligh tersebut ialah sempurnanya usia lima belas tahun untuk anak laki-laki dan perempuan, keluarnya sperma sesudah berumur sembilan tahun untuk anak laki-laki dan perempuan, dan menstruasi atau haid sesudah berumur sembilan tahun untuk anak perempuan”.(lihat Salim bin Sumair Al-Hadlrami, Safiinatun Najah, (Beirut: Darul Minhaj: 2009), hal. 17).
- Suci Dari Haid Dan Nifas Untuk Perempuan.
Syarat SAHNYA Shalat
- Badan Suci Dari Hadats Kecil Dan Hadats Besar.
- Badan, Pakaian, Dan Tempat Sholat Harus Bersih Dari Najis.
- Menutup Aurot.
- Sudah Masuk Waktunya Sholat.
- Menghadap Kiblat.
Hal yang Membatalkan Sholat
- Berhadats ( Segala Sesuatu Kotoran Yang Keluar Dari Tubuh, Contohnya : Buang Air Kecil, Buang Air Besar, Buang Angin ).
- Terkena Najis Yang Jelas.
- Menyengaja Berkata/Ngomong/Bicara Di samping Bacaan Sholat.
- Menyengaja/Dengan Sengaja Meninggalkan Suatu Syarat, Rukun Sholat.
- Menyengaja Bergerak 3x Berturut-turut, di samping gerakan sholat. Contohnya : Garuk Garuk Ke Arah yang Sama.
- Tertawa Terbahak-bahak.
- Mendahului Imam Jika ia Makmum ( Sholat Berjamaah ).
- Murtad.
Sunnah – Sunnah Shalat
- Sebelum Sholat Adzan Dan Iqomat.
- Siwak ( Sikat Gigi ).
- Mengangkat Kedua Tangan Sebatas Telinga.
- Menyatukan Pergelangan Tangan Kanan Dan Kiri ( Sedakep ).
- Membaca Doa Iftitah.
- Membaca Taawudz ( Audzubillahiminasyaitonirrojim ).
- Membaca Amin, Setelah Al Fatihah.
- Membaca Surat Atau Ayat Alquran Setelah Membaca Surat Al Fatihah.
- Membaca Tasbih Disaat Ruku’ Dan Sujud.
- Membaca Doa Disaat Duduk Diantara 2 Sujud.
- Membaca Tahiyyat dan Sholawat Pada Rokaat Kedua.
- Membaca Doa Qunut.
- Duduk Iftirosy Dalam Semua Duduk Sholat.
- Duduk Tawarruk ( Bersimpuh Saat Tahiyat Akhir ).
- Doa Sebelum Salam.
- Salam Kedua Setelah Selesai Salam Pertama.
- Doa Setelah Salam Kedua.
Manfaat Dan Makna Shalat
Kebersihan
Karena Orang Yang Hendak Melaksanakan Sholat :
- Harus Bersih Hatinya Dari Berbagai Macam Kotoran ( Marah, Sombong, Dengki, Dendam, dan Lainnya )
- Harus Bersih Perutnya dari sekian banyak macam kotoran ( Minuman dan makanan yang harom, makanan riba dan memakan harta anak yatim )
Kesopanan
Karena Orang Yang Hendak Melaksanakan Sholat :
- Harus Menutup Aurot dengan kain yang bersih dan tebal.
- Harus Mematuhi kriteria dan rukunnya.
Kesehatan
Karena Orang Yang Hendak Melaksanakan Sholat :
- Harus Berwudhu
- Harus Menyiapkan dan Menuju Tempat Sholat
- Harus Melakukan Sesuai Rukunnya ( Berdiri, Ruku, Sujud Dan Duduk )
Kesabaran dan Ketenangan
Karena Orang Yang Hendak/Sedang Melaksanakan Sholat :
- Tidak Boleh Tergesa – gesa dalam mengemban rukun – rukunnya ( baik yang mesti maupun yang sunnah )
- Harus Tertib dan tumakninah/tenang sampai sampai untuk khusyu.
Percaya Diri
Karena orang yang sholat mesti merasa berhadapan dengan Alloh SWT dan mesti tidak jarang kali merasa dipantau dan diacuhkan oleh Alloh SWT. Maka bilamana manusia sudah berdampingan dengan yang Maha Segalanya, pasti akan merasa aman dan percaya diri
Tentang Makna Mendirikan Sholat
- Orang Sholat Itu Gak Marah Lagi. ( Ojo Nesu )
- Orang Sholat Itu Gak Bohong Lagi. ( Ojo Ngapusi )
- Orang Sholat Itu Gak Usil lagi. ( Ojo Maido ).
Ketika Seseorang Masih Sering Marah, Bohong, Dan Usil atau Ghibah, Berarti seseorang tersebut bukan “Melaksanakan Sholat” melainkan melulu “Melakukan Gerakan Sholat”
Karena Sholat tersebut sejatinya akan menangkal perbuatan anda dari keji dan munkar, serta dapat mengendalikan Nafsu Amarah yang terdapat di dalam diri seseorang tersebut sendiri.
Arti Shalat Bagi Seorang Muslim
ARTI SHALAT BAGI SEORANG MUSLIM
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin[1]
1. Shalat adalah rukun Islam yang kedua. Shalat adalah rukun yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat.
2. Shalat adalah sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Rabbnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَاصَلَّى يُنَاجِيْ رَبَّهُ
Sesungguhnya apabila salah seorang diantara menunaikan shalat, maka dia sedang bermunajat (berbisik) kepad Rabbnya (HR. Al-Bukhâri, Kitab Mawâqîtus Shalât
Dalam hadist Qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman :
قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَاسَأَلَ،
فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : اَلْحَمدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللهُ تَعَلَى: حَمَدَنِيْ عَبْدِ،
وَإِذَاقَالَ :اَلرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِيْ،
وَإِذَاقَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، قَالَ: مَجَدَنِيْ عَبْدِيْ،
فَإِذَاقَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُوَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، قَالَ: هٰذَابَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَاسَأَلَ،
فَإِذَا قَالَ: اِهْدِنَاالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَّآلِّيْنَ، قَالَ: هٰذَالِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَاسَأَلَ
Aku telah membagi ash-shalat (surat al-Fâtihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua macam, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.
Apabila hamba membaca ‘Segala puji hanya bagi Allâh, Rabb semesta Alam,’ maka Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’
Jika ia mengucapkan, ‘Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.
Jika ia mengucapkan, ‘Yang menguasai hari pembalasan, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.
Jika ia mengucapkan, ‘Hanya kepada-Nya kami beribadah dan hanya kepada-Nya kami memohon, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Inilah bagian bagi Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku adalah apa yang diminta.
Dan jika ia mengucapkan, ‘Berilah petunjuk kepada kami atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Engkau beri kenikmatn bagi yang mengikutinya, bukan jalan yang Engkau murkai dan bukan pula Engkau sesatkan, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dimintanya. [HR. Muslim]
3. Shalat merupakan taman berbagai ibadah. Di dalam taman itu terdapat tanaman-tanaman yang berpasangan nan indah (dzikir-dzikir yang indah). (Di dalam shalat ada:-red)
– Takbîr yang menjadi pembuka shalat
– Al-qiyâm (berdiri) yang pada saat itu seseorang yang sedang shalat membaca Kalâmullâh (al-Qur’ân)
– Rukû’. Saat ruku’ ini, seseorang yang sedang shalat mengagungkan Rabbnya
– I’tidâl (berdiri dari ruku’). Momen ini dipenuhi oleh orang yang sedang shalat dengan pujian kepada Allâh,
– Sujûd. Pada saat sujud, orang yang shalat bertasbîh (berdzikir dengan menyebut kemahasucian Allah k –red) yang Maha tinggi juga sembari berdo’a kepada-Nya
– Qu’ûd (duduk). Momen dipergunakan untuk berdo’a dan membaca tasyahhud.
– Salam, menjadi penutup rangkaian kegiatan dalam ibadah shalat.
4. Shalat bisa membantu orang yang melaksanakannya dalam meraih perkara-perkara penting dan bisa mencegahnya dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, [Al-Baqarah/2:45]
Juga firman-Nya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari al-Kitâb dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu bisa melarang dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. [Al-‘Ankabût/29:45]
5. Shalat merupakan cahaya di dalam hati-hati kaum Mukminin dan juga cahaya saat kaum manusia dikumpulkan pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan amal mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلاَةُ نُوْرٌ
Shalat adalah cahaya.[HR. Muslim]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ القِيَامَةِ
Barangsiapa menjaga shalatnya, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat. [HR. Ahmad dalam kitab Musnad, 2/169]
6. Shalat merupakan (sumber) kebahagiaan jiwa-jiwa kaum Mukminin dan menjadi penyejuk pandangan (sumber ketenangan) mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
جُعِلَتْ قُرُّةُ عَيْنِيْ فِى الصَّلاَةِ
Penyejuk mataku (penenang hatiku) ada pada shalat [HR. Ahmad dalam kitab Musnad, 3/199]
7. Shalat adalah penyebab dihapusnya (dosa) kesalahan dan keburukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
Bagaimana menurut kalian apabila ada sungai di depan pintu salah seseorang di antara kalian, lalu ia mandi lima kali sehari di sungai tersebut, masihkah ada kotoran yang tersisa? Para Shahabat g menjawab, “Tidak akan ada kotoran yang tersisa.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Demikianlah perumpamaan shalat yang lima waktu. Allâh Azza wa Jalla menghapuskan (dosa-dosa) kesalahan-kesalahan dengan sebab shalat-shalat itu [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَالَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
Shalat yang lima waktu dan shalat Jum’at sampai shalat Jum’at berikutnya sebagai penebus atau penghapus dosa-dosa yang ada di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.[HR. Muslim]
8. Shalat secara berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian, sebagaimana diriwayatkan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Barangsiapa ingin berjumpaan dengan Allâh Azza wa Jalla (pada hari kiamat) besok sebagai seorang Muslim, maka hendaknya dia menjaga shalat lima waktu di tempat yang dikumandangkan adzan untuk shalat lima waktu tersebut. Karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla mensyariatkan kepada Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalan petunjuk, dan sesungguhnya shalat-shalat ini termasuk jalan petunjuk. Seandainya kalian melaksanakan shalat (lima waktu) di rumah kalian sebagaimana mutakhallif (orang yang meninggalkan shalat berjama’ah-red) melaksanakannya di rumah, berarti kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian n maka sungguh kalian pasti akan tersesat (dari jalan Allâh Azza wa Jalla ). Tidak ada seorangpun yang bersuci dan menyempurnakan wudhunya, lalu dia pergi ke salah satu masjid dari masjid-masjid yang ada, kecuali Allâh akan menetapkan atau menuliskan baginya satu kebaikan pada setiap langkah kakinya, meninggikannya satu derajat dan menghapuskan satu kesalahan. Sungguh aku telah melihat (di jaman) kami, tidaklah ada yang meninggalkan shalat lima waktu (secara berjama’ah) kecuali orang munafik yang telah diketahui (diyakini) kemunafikannya. Dan sungguh seorang laki-laki (Muslim yang sedang sakit) dibawa (ke masjid) dengan dipapah dua orang laki-laki sampai ditegakkan di shaf. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)
9. Khusyu’ dalam shalat yaitu menghadirkan hati serta menjaga pelaksanaan shalat termasuk penyebab masuk surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ﴿٤﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴿٨﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ﴿٩﴾ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ﴿١٠﴾ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. [Al-Mukminûn/23:1-11]
10. Ikhlas dalam shalat dan melaksanakannya sebagaimana yang telah dijelaskan dalam as-Sunnah merupakan dua syarat mendasarditerimanya ibadah shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى
Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah apa yang diniatkannya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Juga sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّى
Shalatlah kalian sebagimana kalian melihat aku shalat [HR. Al-Bukhâri]
(Selanjutnya beliau rahimahullah menjelaskan tata cara shalat, dimulai dari bersuci dari hadats dan najis sampai salam)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi
"Majmû’ Fatâwâ wa Rasâil beliau rahimahullah".
Apa Makna Gerakan-gerakan Dalam Sholat
Merepresentasikan apakah gerakan-gerakan sholat seprti qiyam, ruku’, dan sujud itu?
Niyyah (Niat Sholat):
Niat adalah keputusan hati, pernyataan dari alasan-alasan di balik perbuatan. Ia artinya berniat untuk mengatakan “ya’ kepada Allah (swt) dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Takbir Iftitah (Takbir Pembukaan)
Dengan mengucapkan Allahu Akbar, kita melemparkan seluruh urusan duniawi di belakang kita dengan tangan kita dan memohon perlindungan dalam kasih sayang Allah (swt). Ia untuk menegaskan bahwa Allah Maha Besar dengan mengucapkan takbir (Allahu Akbar).
Qiyam (berdiri):
Dengan prinsip ini di dalam sholat, manusia merepresentasikan para malaikat dan pepohonan yang senantiasa berdiri dan memuji Allah (swt). Qiyam adalah berdirinya manusia di hadapan Zat (swt) Yang Maha Kekal dengan raga dan hatinya.Kepala yang tertunduk saat qiyam mencerminkan ketiadaan kesombongan dan kerendahan hati.
Qira’at (Bacaan):
Qira’at adalah untuk mensyukuri kesempurnaan Allah yang tanpa cacat, keindahan yang tidak dapat diserupai, dan kasih sayang Allah yang tiada batas dengan mengucapkan Alhamdulillah.Juga, Qira’at menunjukkan bahwa segala perbuatan dapat terwujud dengan pertolongan Allah dan pujian hanya bagi Dia.Untuk terhubung dengan Zat Yang Maha Kekal(swt) dengan mengucapkan
(“Ya Tuhan Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan). (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in).
Ruku’
Dalam posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang menyembah Allah dalam posisi ini secara konsisten dan hewan-hewan yang selalu berdiri dalam ruku’nya di atas empat kaki mereka. Ruku’ artinya mengagungkan Kebesaran Sang Pencipta beserta seluruh alam semesta yang melihat kelemahan dan kemiskinan manusia dengan melafazkan “subhana robbial azim”… untuk berusaha menanamkan akarnya di dalam hati kita dan untuk mengangkat kepala kita dari ruku’ dengan harapan memperoleh rahmat Allah dengan cara mengulang-ulang kebesaran Allah (swt).
Sujud:
Dengan posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang secara terus menerus bersujud dan binatang melata yang nampaknya hampir selalu bersujud seumur hidupnya.Sujud adalah meninggalkan segala sesuatu selain dari pada Allah (swt) dengan mengucapkan “subhanarobial a’la” dengan kerendahan hati kepada Keindhan Allah, asma Allah dan segala sifat-Nya.” Seorang hamba menjadi paling dekat dengan Tuhannya ketika bersujud. Maka, perbanyaklah doa dalam sujud” (Muslim).
Qa’da (duduk):
Dengan posisi ini manusia mewakili ibadahnya para malaikat yang menyembah-Nya sambil duduk dan juga gunung-gunung, bebatuan juga Nampak dalam bentuk yang sedang duduk. Manusia menegaskan bahwa segala sesuatu yang dia miliki sebenarnya adalah milik Allah dengan mengucapkan tahiyyat. Dia memperbarui imannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ( Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya). Di dalam sholat- semacam Mi’raj bagi orang beriman- tasyahud adalah mengingat percakapan antara Nabi Muhammad (saw) dengan Allah (swt) pada saat Mi’raj.
Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili didatangi oleh beberapa fuqaha yang berasal dari Kota Iskandariah untuk mengetahui kealiman beliau. Beliau tatap mereka semua lalu bertanya: "Wahai para fuqaha, apakah kalian sudah shalat?" Dengan tegas, mereka menjawab, "Apakah ada di antara kami yang tidak shalat?" Al-Syadzili membaca firman Allah: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat" (QS al-Ma'arji [70]: 19-22).
"Apakah kalian demikian? Yakni, jika ditimpa musibah kalian gelisah dan jika mendapat kebaikan kalian kikir." Mereka pun diam. Akhirnya beliau meneruskan, "Kalau begitu kalian masih belum shalat."
Shalat yang sesungguhnya dilakukan dengan lahir dan batin, raga dan jiwa secara konsisten dan terus menurus (daimun). Mereka yang shalat secara fisik, tetapi hatinya tidak hadir mengingat Allah berarti jiwanya tidak shalat. Mereka akan gagal memahami pesan dan esensi shalat. Begitu juga shalat karena riya dan bermalas-malasan menunjukkan mental munafik (QS an-Nisa'/4: 142). Akibatnya shalat tidak memberi efek positif terhadap perilaku dan kinerjanya.
Sayyidina Ali, seperti dikutip Imam al-Birgawi (929-981 H) dalam kitab Vasiyyetname (Terj. Buku Saku Iman dan Islam) menyatakan , ada empat jenis ibadah. Pertama, mendirikan shalat hanya sebagai gerakan tubuh tanpa makna. Inilah yang disebut Nabi SAW: "Berapa banyak orang yang shalat, tetapi tidak merasakan apa-apa selain lelah."
Kedua, ibadah yang dilakukan dengan harapan bahwa Allah memberinya bagian dari dunia, seperti uang, kemasyhuran, dan lainnya. Ini bukan ibadah, melainkan dagang karena orang yang beribadah seperti itu mengharapkan bayaran berupa bagian dunia maupun nikmat akhirat.
Ketiga, ibadah yang dilakukan untuk bersyukur. Sayyidina Ali menyebutnya sebagai ibadah yang berorientasi pada kepentingan diri. Keempat, ibadah yang tertinggi adalah pengagungan si pencinta kepada Yang Dicintai, yang didorong oleh kecintaan murni kepada Allah. Kelompok ini disebut sebagai "Orang yang Dia cintai dan yang mencintai-Nya" (Qs al-Maidah [5]: 54).
Maka, dirikanlah shalat dengan raga dan jiwa hanya mengharap keridhaan Allah semata. Dengan begitu, shalat akan meneguhkan seseorang terhindar dari perbuatan fahsya' dan mungkar, mudah bersyukur, senantiasa bersabar, tidak kikir, tak mudah mengeluh dan berputus asa. Shalat juga menuntun manusia menuju puncak spiritual tertinggi sebab shalat adalah mi'rajnya setiap mukmin.
Kesucian rohani yang dimiliki akan mendorongnya berbuat untuk keselamatan umat, seperti pesan dari bacaan dan gerakan terakhir dalam shalatnya: membaca salam ke kanan dan kiri. Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar