Bismillahirrahmanirrahim.
Boleh kah saya berdongeng
Ada kisah seorang ulama yang pandai bermain musik yaitu
Imam Al-Farabi (Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi) adalah seorang filsuf dan ilmuwan Muslim abad ke-10 yang dikenal sebagai "Bapak Musik"
Utama Al-Farabi dalam Musik:
Penemu Notasi Musik: Ia menemukan dan menulis sistem notasi musik yang menjadi cikal bakal notasi modern, yang dijelaskan dalam Al-Musiqa al-Kabir.
Teori Musik: Menulis buku-buku fundamental tentang ilmu dasar musik, termasuk rumus nada maqam, yang memengaruhi psikis dan biologis manusia.
Komposer dan Musisi: Menciptakan irama musik dan sangat mahir memainkan berbagai alat musik, bahkan membuat Sultan Damaskus terhibur hingga tertidur.
Terapi Musik: Mempelajari musik sebagai terapi untuk penyakit psikologis dan emosional, serta menggunakannya untuk meningkatkan konsentrasi dan kreativitas.
Pengaruh Luas: Karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin dan dipelajari di Eropa, menjadikannya jembatan intelektual antara Timur dan Barat dalam bidang musik dan filsafat.
Karyanya yang Terkenal:
Al-Musiqa al-Kabir (Buku Besar Musik): Karya monumentalnya yang membahas teori dan praktik musik secara mendalam.
Ihsa Al-'Ulum (Klasifikasi Ilmu): Buku tentang klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, termasuk musik.
Seorang ahli ibadah yang memiliki bakat bermusik merupakan kombinasi yang unik, di mana bakat seni (musik) dapat digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau menyampaikan pesan moral, asalkan tetap dalam koridor etika agama.
Berikut adalah beberapa aspek terkait perpaduan ahli ibadah dan bakat bermusik:
Pemanfaatan Bakat untuk Ibadah: Seni musik dapat digunakan dalam konteks keagamaan untuk meningkatkan kekhusyukan atau membawa jemaat masuk dalam hadirat Tuhan, seperti dalam tradisi pemujian.
Contoh Tokoh Muslim: Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat tokoh seperti Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf, ilmuwan, sekaligus musisi jenius (Bapak Musik) yang menciptakan alat musik dan teori musik.
Pandangan Hukum Islam: Pandangan tentang musik dalam Islam cukup beragam. Sebagian ulama menekankan keharaman musik jika membawa pada kemaksiatan, namun musik yang bernuansa positif dan digunakan untuk kemaslahatan (dakwah) dianggap mubah atau diperbolehkan oleh sebagian lainnya.
Keseimbangan: Seorang ahli ibadah bermusik umumnya menggunakan bakatnya dengan lirik yang edukatif, memuji Tuhan, atau menenangkan jiwa, tanpa melanggar kewajiban utamanya sebagai hamba.
Dalam konteks spiritual, bakat bermusik yang dimiliki seorang ahli ibadah dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiah melalui harmoni suara.
Penjelasan
Dalam pandangan Islam, menyamakan orang yang rajin beribadah (fokus pada ketaatan) dengan orang yang hobi musik (fokus pada hiburan) adalah hal yang kurang tepat jika dilihat dari sisi prioritas amal dan tingkat ketakwaan.
Berikut adalah poin-poin yang perlu dipertimbangkan berdasarkan literatur keislaman:
1. Perbedaan Prioritas dan Fokus sangat berbeda jauh dalam pandangan…
a.Rajin Ibadah: Orang yang rajin ibadah menghabiskan waktunya untuk hal yang diperintahkan Allah Swt, seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an, yang menenangkan hati dan menambah iman.
b. Hobi Musik :
Bakat, Minat, Hobi = Kesuksesan
Musik seringkali dipandang sebagai "lahwal hadits" (perkataan yang tidak berguna) yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah.
2. Hukum Musik dan Dampaknya
Pendapat Mayoritas (Haram/Makruh): Banyak ulama, termasuk empat imam mazhab, memandang bahwa musik (alat musik/nyanyian) cenderung haram atau setidaknya makruh, terutama jika menyebabkan lalai dari kewajiban.
Risiko Kemunafikan: Sebagian pandangan menyebutkan bahwa kegemaran mendengarkan musik dapat menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati dan menjauhkan seseorang dari kecintaan pada Al-Qur'an.
3. Kriteria Kemuliaan
Dalam Islam, kemuliaan seseorang di sisi Allah diukur berdasarkan tingkat ketakwaannya (kesadaran akan kehadiran Allah, ketaatan pada perintah, dan menjauhi larangan).
Oleh karena itu, seseorang yang waktunya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah tentu memiliki posisi lebih tinggi daripada seseorang yang waktunya habis untuk hobi hiburan.
4. Pengecualian dan Konteks
Ada sebagian pandangan yang memperbolehkan musik (mubah) selama tidak bertentangan dengan syariat, tidak merangsang hawa nafsu, dan tidak menghalangi kewajiban.
Namun, jika hobi musik tersebut membuat seseorang meninggalkan kewajiban (seperti menunda shalat), maka hal tersebut dipandang sebagai perbuatan buruk.
Kesimpulan:
Meskipun keduanya adalah manusia yang memiliki hobi berbeda, secara nilai ibadah dan prioritas ketaatan, orang yang rajin beribadah memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang hobi musik dan mengabaikan mengingat Allah.
Penjelasan
Bakat adalah kemampuan alami bawaan sejak lahir yang potensial, sementara hobi adalah kegiatan rekreatif yang dilakukan karena kesenangan di waktu senggang, yang keduanya sering kali saling berkaitan dan bisa dikembangkan menjadi minat (ketertarikan emosional) untuk meraih prestasi atau keahlian lebih dalam. Singkatnya, bakat adalah "kemampuan", hobi adalah "aktivitas senang-senang", dan minat adalah "dorongan untuk tertarik" pada sesuatu.
Bakat (Talent)
Definisi: Kemampuan atau keahlian bawaan yang dimiliki sejak lahir dan perlu diasah agar berkembang optimal, seperti bakat verbal, numerik, atau spasial.
Contoh: Kemampuan alami berbicara fasih (bakat verbal), mudah memahami angka (bakat numerik), atau mahir menggambar pola 3D (bakat spasial).
Karakteristik: Sering kali membuat seseorang unggul tanpa perlu banyak usaha ekstra di awal.
Hobi (Hobby)
Definisi: Kegiatan yang dilakukan di waktu luang untuk bersenang-senang, relaksasi, atau kesenangan, seringkali dipengaruhi lingkungan dan bisa berubah seiring waktu.
Contoh: Berkebun, melukis, atau main musik dan sebagainya.
Karakteristik: Bersifat rekreatif dan tidak harus selalu menghasilkan keahlian tinggi, bisa menjadi jalan menemukan bakat terpendam.
Minat (Interest)
Definisi: Kecenderungan atau ketertarikan afektif yang mendorong seseorang untuk terlibat dalam aktivitas tertentu karena rasa ingin tahu atau kesenangan, bersifat lebih luas dari hobi.
Contoh: Tertarik pada topik sains, sejarah, atau petualangan, yang bisa dieksplorasi melalui berbagai hobi atau aktivitas.
Karakteristik: Memberi motivasi untuk belajar dan berkembang, bisa jadi dorongan kuat untuk mengembangkan bakat.
Hubungan Ketiganya
Bakat + Minat + Hobi = Kesuksesan: Ketika hobi Anda sesuai dengan bakat alami dan memicu minat mendalam, potensi untuk mencapai hasil luar biasa (prestasi atau bahkan karier) akan lebih besar.
Mengasah Hobi: Hobi sederhana bisa menjadi cerminan bakat, dan jika ditekuni bisa berkembang menjadi minat yang kuat, bahkan passion seumur hidup.
#Kejadian seseorang yang rajin beribadah diusir saat bermain musik oleh orang yang tidak suka atau hasud (dengki) umumnya berakar dari penyakit hati dan dinamika sosial-psikologis, bukan semata-mata karena musiknya.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa hal tersebut terjadi berdasarkan perspektif sosial dan perilaku:
Penyakit Hati dan Hasad (Dengki): Hasad adalah perasaan tidak senang ketika orang lain menerima nikmat (bakat, kemampuan bermusik, popularitas) dan berharap nikmat tersebut hilang. Orang yang hasud merasa sakit hati melihat kesuksesan atau kebahagiaan orang lain, bahkan jika orang tersebut berakhlak baik.
Ketidaksukaan pada Citra "Sempurna": Orang yang hasud mungkin merasa terganggu melihat seseorang yang rajin ibadah juga memiliki kemampuan seni (bermain musik). Ini sering memicu rasa iri hati yang dalam.
Alasan Psikologis (Proyeksi Kebencian): Orang yang hasud sering kali menggunakan alasan-alasan eksternal (seperti "musik itu bising" atau "musik itu dilarang") untuk menutupi niat sebenarnya, yaitu menjatuhkan orang yang mereka benci. Mereka ingin menghilangkan kebahagiaan orang lain.
Ketidakmampuan Menerima Kebahagiaan Orang Lain: Orang yang hasud merasa "tersiksa" melihat keharmonisan dan kebahagiaan orang lain, sehingga mereka cenderung melakukan tindakan permusuhan, seperti mengusir atau membuat fitnah.
Perbedaan Pandangan (Kadang Jadi Alasan): Meskipun hasad adalah penyebab utama, sering kali tindakan ini dibungkus dengan alasan perbedaan pandangan mengenai hukum musik dalam konteks tertentu.
Hasad dianggap sebagai penyakit jiwa yang berbahaya dan dapat merusak amal kebaikan, serta sering membuat pelakunya merasa tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat.
Penjelasan ( Rangkuman )
Didalam Ayat Al-Qur'an tentang pengembangan diri menekankan pentingnya perubahan diri menjadi lebih baik melalui ilmu, iman, dan perbuatan baik, seperti
1.QS. Ar-Ra'd (13): 11
Artinya :
(Allah tidak mengubah nasib kaum jika mereka tidak mengubah diri),
2.QS. Al-Mujadalah (58): 11
Artinya :
(Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu), serta
3.QS. Al-Ahzab (33): 21
Artinya :
(menjadikan Rasulullah sebagai teladan). Prinsipnya meliputi belajar, introspeksi, bersyukur atas potensi, dan berbuat bermanfaat bagi orang lain.
Ayat-ayat Utama tentang Pengembangan Diri:
<1>a. QS. Ar-Ra'd (13): 11
Artinya :
"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Makna: Menjadi motivasi utama untuk introspeksi diri, mengenali kelemahan, dan berusaha memperbaiki diri secara aktif, karena perubahan dimulai dari usaha pribadi.
<2>b.QS. Al-Mujadalah (58): 11
"...niscaya Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
Makna: Menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan adalah kunci untuk meningkatkan derajat kemuliaan diri di sisi Allah.
<3>c.QS. Al-Ahzab (33): 21
Artinya :
"Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu..."
Maknanya: Menunjukkan bahwa Nabi Muhammad
SAW adalah teladan sempurna untuk ditiru dalam segala aspek kehidupan sebagai jalan pengembangan diri yang ideal.
<4>d.QS. Az-Zumar (39): 9
Artinya:
"...Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Makna: Mendorong pencarian ilmu sebagai landasan utama pengembangan diri, mencakup ilmu dunia dan akhirat.
<5>e.QS. Al-Isra (17): 53
Artinya:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku (musyrik) agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan meng)..."
Maknanya: Mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan bertutur kata baik, bahkan dalam situasi sulit, untuk pengembangan akhlak.
Prinsip Pengembangan Diri Lainnya:
Berpikir dan Introspeksi: Memahami potensi diri dan bersyukur, sebagaimana dalam ayat-ayat yang diakhiri dengan "afala..." (apakah mereka tidak...).
Berbuat Baik dan Bermanfaat: Membangun interaksi positif dengan sesama dan menyalurkan potensi untuk kebaikan umum (QS. Al-Baqarah: 195).
Keteguhan Iman dan Taqwa: Menjadi fondasi kuat dalam menemukan jati diri dan menghadapi tantangan hidup.
#
Assalamu'alaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin, wabihi nasta'inu 'alaa umuriddunya waddiin. Wassholatu wassalamu 'alaa asyrofil mursaliin, wa 'alaa aalihi wa sohbihi ajma'iin. Amma ba'du.
"Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Dan semoga rahmat serta kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi paling mulia, serta kepada para keluarga dan semua sahabatnya."
Hadirin yang mulia, dalam kesempatan yang berharga ini, izinkanlah saya untuk mengawali Menyampaikan Pesan pesan yang Penuh Hikmah ini dengan membahas sebuah tema yang sangat penting dalam ajaran Islam, yaitu :
Makna dari DUIT yaitu :
Doa, Usaha, ikhtiar dan Tawakal, dan
Metode dakwah yang saya rangkum diambil dari kitab suci al qur an.
Pertama,
Saya akan berdongeng dengan metode saya yang di ambil dari kitab suci al qur an
QS. An Nahl ayat 125,
Artinya:
"Ajaklah manusia ke jalan Tuhan-mu dengan cara yang bijaksana, pengajaran yang baik dan berdialoglah dengan mereka dengan cara-cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl:125)
Metode dakwah mencakup pendekatan berdasarkan Al-Qur'an seperti :
1.(kebijaksanaan),
2.(nasihat yang baik), dan
3.(diskusi yang baik), serta metode praktis seperti ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan melalui pendidikan, sosial, atau aksi sosial, dengan penekanan pada keteladanan dan kelembutan untuk menyentuh hati mad'u.
Metode Utama Berdasarkan Al-Qur'an (Surat An-Nahl Ayat 125)
Bil Hikmah (Dengan Kebijaksanaan): Menyampaikan dakwah dengan ilmu, logika yang kuat, dan pemahaman mendalam tentang materi serta audiens, menghindari keraguan dan mudharat.
Mau'izah Hasanah (Nasihat yang Baik): Memberikan pengajaran yang menyentuh hati, lemah lembut, menyejukkan, dan disertai keteladanan, sesuai dengan kapasitas penerima dakwah.
Mujadalah Billati Hiya Ahsan (Diskusi yang Lebih Baik): Berdebat dengan cara yang paling baik, menggunakan argumen dan dalil yang logis untuk membantah kebatilan, bukan dengan kekerasan atau emosi.
Dakwah Bil Hal, dakwah yang menyampaikan ajaran Islam melalui Segala Perbuatan Anggota Tubuh. Baik secara cara berfikir ( menggunakan Akal Sehat ), jasmani dan rohani.
Metode Praktis Lainnya
Ceramah: Metode konvensional menyampaikan materi secara langsung.
Tanya Jawab (Dialog Interaktif): Melibatkan audiens untuk bertanya dan mendapatkan kejelasan.
Diskusi (Debat): Saling bertukar pikiran untuk mencapai pemahaman yang benar.
Demonstrasi: Memperagakan praktik-praktik keagamaan.
Qudwah Hasanah (Keteladanan): Menjadi contoh nyata dari ajaran Islam.
Dakwah Perseorangan (Fardiyah): Menasihati individu secara langsung, seperti saat menjenguk orang sakit.
Dakwah Melalui Pendidikan: Memanfaatkan lembaga pendidikan untuk menyebarkan nilai Islam.
Dakwah Melalui Media: Menggunakan media massa (cetak, elektronik, digital) untuk menjangkau lebih banyak orang.
Dakwah Aksi Sosial: Berdakwah melalui kegiatan amal dan pelayanan masyarakat.
Amar Ma'ruf Nahi Munkar: Mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW.
Kunci Keberhasilan Dakwah
Adab dan Etika: Sopan santun, jujur, dan tidak menghasut.
Fleksibilitas: Menyesuaikan metode dengan kondisi audiens dan tempat dakwah.
Kearifan Lokal: Memahami budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
A.1. Dakwah Fardiyah
Dakwah Fardiyah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada individu lain (satu orang) atau beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Dakwah Fardiyah biasanya dilaksanakan tanpa persiapan, sehingga materi yang disampaikan tidak tersusun secara tertib.
2. Dakwah Ammah
Dakwah Ammah dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada khalayak dalam jumlah yang besar. Metode dakwah ini disampaikan melalui khutbah atau pidato sehingga dapat didengar oleh banyak orang.
3. Dakwah bil-Lisan
Dakwah bil-Lisan merupakan metode penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan. Baik berupa ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek dakwah.
4. Dakwah bil-Haal
Dakwah bil-Haal adalah metode dakwah yang lebih mengutamakan perbuatan nyata. Dakwah jenis ini dilakukan dengan memberi pemahaman secara teori beserta contoh pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan metode ini, orang yang mendengarkan dakwah diharapkan mampu melaksanakan nilai-nilai kebaikan yang telah dicontohkan kepadanya.
5. Dakwah bit-Tadwin
Dakwah bit-Tadwin adalah dakwah yang dilakukan melalui tulisan, baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, artikel di internet, koran, dan lain-lain. Metode dakwah semacam ini bersifat tahan lama dan dapat tersampaikan dari generasi ke generasi, meskipun penulisnya sudah wafat.
6. Dakwah bil-Hikmah
Dakwah bil-Hikmah disampaikan dengan pendekatan komunikasi khusus yang bersifat persuasif. Dengan begitu, hati penerima dakwah tergerak untuk melaksanakan ajaran-ajaran yang baik atas kemauannya sendiri.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
#Kedua#,
Doa Usaha, ikhtiar dan tawakal, dalam praktiknya seringkali tak berjalan beriringan. Padahal, jika keempatnya digabungkan akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mewujudkan sesuatu.
Mengapa demikian?
Umumnya, jika seseorang besar dalam usahanya, ia pun tak lupa untuk berdoa, namun lupa untuk berserah diri. Adapula yang berserah diri namun tidak melakukan usaha dan doa, sebaliknya. Padahal, keempatnya harus diterapkan dalam keseharian sesuai kemampuan kita, agar bisa mewujudkan suatu perubahan yang signifikan dalam kehidupan.
Flash Back ( mari kita mengulang kisah kisah islam yang bersejarah semoga kita merenungkan dan Introspeksi diri dan Muhasabah diri yaitu :
Kisah penuh Inspirasi kehidupan islam dapat kita temui di berbagai kisah-kisah para sahabat nabi. Tentu sahabat sudah mengenal sahabat-sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib, namun masih banyak kisah sahabat Nabi yang jarang diketahui padahal sarat inspirasi. Mereka menunjukkan keteguhan, keberanian, dan kesetiaan yang tinggi kepada Islam. Berikut ini diketahui adalah beberapa kisah sahabat Nabi yang jarang yang dapat menginspirasi kita dalam menjalani kehidupan Islami.
Kisah Teladan Tentang Tawakkal
1. Kisah Nabi Musa AS dan Laut Merah
Ketika Nabi Musa AS bersama kaumnya dikejar oleh pasukan Firaun di tepi Laut Merah, kaumnya merasa ketakutan dan khawatir akan keselamatan mereka. Pasukan Firaun berada di belakang, sementara laut yang luas berada di hadapan mereka. Dalam situasi yang tampaknya mustahil untuk selamat, Nabi Musa menunjukkan tawakkalnya kepada Allah dengan penuh keyakinan, beliau berkata:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
"Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."
(QS. Ash-Shu’ara: 62)
Dengan izin Allah, Laut Merah terbelah, membuka jalan bagi Nabi Musa dan kaumnya untuk melarikan diri. Setelah mereka melewati laut, Allah menutup kembali laut tersebut dan menenggelamkan pasukan Firaun. Keutamaan tawakkal Nabi Musa ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berserah diri kepada Allah, Allah akan memberi jalan keluar dari situasi yang paling sulit sekalipun.
2. Kisah Maryam Binti Imran: Tawakkal dalam Keterasingan
Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS, adalah wanita salehah yang hidup dengan penuh keimanan kepada Allah. Ketika ia mengandung Nabi Isa tanpa pernah disentuh oleh laki-laki, hal ini menjadi ujian besar baginya. Dalam keterasingan dan kekhawatiran atas tuduhan masyarakat, ia tetap bertawakkal kepada Allah. Allah berfirman kepada Maryam saat ia sedang kesakitan karena melahirkan:
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."
(QS. Maryam: 25)
Dengan tawakkal kepada Allah, Maryam mampu melalui masa sulit tersebut, dan Allah menolongnya dengan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kisah ini menunjukkan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bertawakkal, khususnya dalam situasi sulit.
3. AMR BIN 'ABASAH AS-SULAMI RADHIYALLAHU ANHU SANG PENCARI AL-HAQ
'AMR BIN 'ABASAH AS-SULAMI RADHIYALLAHU ANHU SANG PENCARI AL-HAQ
'Amr bin 'Abasah A s-Sulami Radhiyallahu Anhu Nama Dan Nasabnya
'Amr bin 'Abasah bin Khâlid bin Hudzaifah as-Sulami al-Bajali
[1] . Abu Najî h atau Abu Syu'aib. Ia adalah saudara Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu dari ibu.
Nama ini termasuk orang yang memeluk Islam sejak lama di Makkah. Maka, ia pun tergolong as-Sâbiqûnal awwalîn . Bahkan 'Amr bin 'Abasah Radhiyallahu anhu melihat dirinya adalah orang keempat yang beragama Islam, sebagaimana akan diungkap dalam kisah keislamannya nanti. Karenanya, dalam sebagian literatur sejarah Islam ia dikenal dengan rubu'ul Islam, seperempat Islam, satu dari empat orang yang telah memeluk agama Allah, karena ia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya bersama Abu Bakar ash-Shiddîq dan Bilal Radhiyallahu anhu saja.
Ia pernah berkata, “Sungguh, aku melihat diriku seperempat dari Islam”.
( Hadist Riwayat Imam adz-Dzahabi meriwayatkan sanad hadits ini dalam as-Siyar . Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad rahimahullah).
Selanjutnya kisah.
4. Kisah Sahabat Nabi yaitu Salman Al-Farisi: Tawakal dalam Mencari Kebenaran
Salman Al-Farisi adalah seorang sahabat yang dikenal karena perjuangannya dalam mencari kebenaran. Awalnya, ia adalah seorang penganut agama Zoroastrianisme (penyembah api), tetapi ia tidak merasa puas dengan agamanya. Dengan tawakkal dan niat yang kuat, Salman meninggalkan negerinya dan berpetualang mencari agama yang benar, yang akhirnya mengantarkannya kepada Islam.
Ia diperbudak dan melalui berbagai cobaan berat, namun tetap bertawakkal kepada Allah. Perjalanan panjang dan penuh ujian tersebut akhirnya berakhir ketika ia bertemu dengan Rasulullah SAW, yang menyampaikan Islam kepadanya. Salman kemudian menjadi salah satu sahabat besar yang dihormati karena keilmuannya dan perjuangannya dalam mencari kebenaran.
Kisah Salman menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah dalam pencarian kebenaran akan memberikan petunjuk dan pertolongan yang luar biasa, bahkan dalam kondisi yang tampaknya mustahil.
Allah Melihat Kegigihan Manusia
Usaha atau ikhtiar adalah jalan agar Allah melihat seberapa gigih kita meharapkan yang terbaik dari-Nya, maka dari itu saat kita mengharapkan sesuatu dalam kehidupan kita senjata yang paling ampuh selain doa adalah usaha, karena melalui usaha tersebutlah Allah akan mengubah takdir kita.
Sebab, takdir tidak akan berubah menjadi lebih baik jika tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengubahnya, apa yang menjadi tujuan dalam hidup takkan pernah tertunaikan dengan sempurna jika usaha tak pernah berjanji kepada Allah, oleh karena itu jangan pernah merasa letih untuk berusaha, apalagi sampai berhenti.
Teruslah berusaha, karena kita tak pernah tahu usaha kita yang bagaimana yang akan Allah sukai, sehingga ia memberi amanah kita takdir yang baik. Maka dari itu se-semu apapun apa yang menjadi harapan kita, tetaplah tenang dan tetaplah berusaha dengan segigih mungkin, karena takkan pernah ada usaha yang berakhir sia-sia.
Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai ibadah. Jika ikhtiarnya menghasilkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 keuntungan.
1. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah.
2.Kedua, ia akan memperoleh keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah. Jika dia sabar, maka dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Berdoa, Tanda Hamba Membutuhkan Allah,
Berdoa merupakan penanda bahwa seorang hamba membutuhkan Tuhan-Nya. Sedangkan berusaha merupakan ikhtiar seorang manusia untuk mencapai sesuatu. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa berdoa dan berusaha memiliki kaitan yang sangat erat. Sebab berdoa dan berusaha adalah salah satu modal untuk mencapai apa yang diinginkan.
Bahkan, doa disebut sebagai senjata orang mukmin, karena memang hanya doa yang tak pernah ditolak oleh Allah, setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya akan selalu diterima, Allah berfirman, “ Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya,” (QS. Al Mu'minun : 60)
Tawakal dan Terus Berdoa
Dalam surat Ali Imran, ayat 159, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal pada-Nya.”
Tawakal memiliki peran penting dalam kehidupan ini, terutama terkait dengan usaha dan doa kita. Seperti yang kita ketahui dan mungkin sering kita alami bersama bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau inginkan akan tercapai dengan segera sesuai keinginan kita, karena memang bukan manusia yang mengatur hidup ini. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya.
Oleh karena itu, sudah seharusnya usaha dan doa kita, kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala . Biarlah Allah yang mengatur kapan usaha dan doa kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Allah lebih tahu kapan usaha dan doa kita akan terkabul. Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah subhanahu wa ta'ala . Terkadang pula, Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap, untuk menerima keberhasilan yang kita inginkan.
Takdir itu milik Allah, namun usaha dan doa adalah milik kita"
dalam bahasa Arab adalah
"القَدَرُ بِيَدِ اللهِ، وَلَكِنَّ الجُهْدَ وَالدُّعَاءَ لَنَا"
(Al-qadaru bi yadi Allahi, walakinnna al-juhda wad-du'aa'a lana).
Kalimat ini menegaskan bahwa Allah memiliki ketetapan takdir, sementara manusia diberi tanggung jawab untuk berusaha
(الجُهْدَ - al-juhdu) dan berdoa
(الدُّعَاءَ - ad-du'aa'a).
الْقَدَرُ بِيَدِ اللهِ (Al-qadaru bi yadi Allahi): Takdir berada di tangan Allah.
وَلَكِنَّ (walakinnna): Namun.
الْجُهْدَ وَالدُّعَاءَ (al-juhda wad-du'aa'a): Usaha dan doa.
لَنَا (lana): Milik kita.
Dalil ayat Suci Al Qur ‘an tentang Doa, Usaha, ikhtiar, dan Tawakal, Amalan yang Bisa Mengubah Takdir.
Setiap manusia diwajibkan berusaha dan berdoa karena dua hal tersebut menjadi bagian dari ibadah. Usaha dan doa juga bisa menjadi cara untuk mengubah takdir.
Dalil perintah beribadah termaktub dalam banyak ayat Al-Qur'an, seperti dalam surah Az Zariyat ayat 56. Allah SWT berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
Berusaha dan bekerja merupakan bagian dari ibadah dan bentuk keimanan seorang muslim. Islam menegaskan bahwa setiap muslim diperintahkan untuk bekerja.
Allah SWT berfirman dalam surah At Taubah ayat 105,
وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: "Dan Katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan'."
Usaha merupakan tanda bahwa seseorang mengupayakan dengan sungguh-sungguh setiap hal yang ingin dicapainya. Usaha seorang muslim bahkan bisa mengubah takdir.
Seorang manusia tidak akan memperoleh hasil jika tidak disertai dengan usaha. Demikian juga soal takdir yang tidak akan bisa diubah jika tidak dibarengi usaha.
Dalam surah An Najm ayat 39-41, Allah SWT berfirman,
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ
ثُمَّ يُجْزَىٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ
Artinya:
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.
Demikian juga ditegaskan Allah SWT dalam surah Ar Ra'd ayat 11,
...اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ...
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka."( Qur ‘an surah Ar Ra'd ayat 11 ),
Ibnu Qoyyim berkata, "Doa merupakan sebab terkuat bagi seseorang untuk selamat dari hal yang tidak disukai dan sebab utama meraih hal yang diinginan."
Terdapat keserasian antara doa dan usaha,
Allah SWT melalui firman-Nya juga mengatakan bahwa apabila seorang hamba memohon, maka ia akan mengabulkannya.
Allah SWT berfirman dalam surah Ghafir ayat 60,
...ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ...
Artinya: "...Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)..."
Hal ini juga ditegaskan dalam surah Al Baqarah ayat 186,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah selain doa." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Dalam berdoa, harus diikuti dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan doa hamba-Nya. Yakini juga bahwa Allah SWT akan memberikan pertolongan bagi hamba yang memohon.
Dalam hadits juga Rasulullah SAW bersabda, "Berdoalah kepada Allah dengan keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai" (HR Tirmidzi)
Doa dan Usaha Diiringi dengan ikhtiar dan Tawakal
menjadi bagian dari ciri orang-orang yang beriman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 159:
...فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya: "Apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tawakal mempunyai makna pasrah diri kepada kehendak Allah SWT, percaya dengan sepenuh hati kepada Allah SWT (dalam penderitaan dan sebagainya) setelah melakukan usaha.
Dalam Islam, tawakal merupakan hal wajib yang harus dimiliki umatnya. Tawakal artinya pasrah kepada Allah SWT tetapi bukan semata-mata tidak melakukan apapun. Justru bertawakal dilakukan sebagai bentuk berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha dan doa.
Tawakal juga bermakna pasrah dan menerima segala hasil yang didapat setelah melakukan usaha dan doa.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu tawakal kepada Allah dengan sepenuh hati, niscaya Allah akan mencukupi segala kebutuhanmu sebagaimana Dia mencukupi kebutuhan burung-burung di langit. Mereka pergi dengan perut kosong dan kembali dengan perut penuh." (HR At Tirmidzi)
Dengan tawakal, seorang muslim beriman tidak akan pernah merasakan kekecewaan karena ia meyakini bahwa ketetapan yang terjadi adalah hal terbaik yang dipilih Allah SWT.
#
Mengenai Doa, Usaha, ikhtiar, dan Tawakal menekankan bahwa keempat hal ini merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam menjalani hidup.
Usaha dan ikhtiar adalah wujud kerja keras dan kesungguhan kita,sementara doa adalah permohonan kepada Allah SWT atas hasil usaha tersebut.
Tawakal adalah tahap akhir setelah berusaha dan berdoa, yaitu menyerahkan segala hasil sepenuhnya kepada Allah, dengan keyakinan bahwa Allah memiliki rencana terbaik.
Konsep dasar
Usaha dan Ikhtiar: Ini adalah tindakan nyata dan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula usaha yang harus dilakukan.
Doa: Permohonan kepada Allah yang menjadi penghubung antara manusia dan Tuhan. Melakukan ikhtiar tanpa doa adalah sombong, sementara berdoa tanpa ikhtiar adalah angan-angan kosong.
Tawakal: Menyerahkan hasil akhir segala usaha dan doa kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Ini bukan berarti berdiam diri, tetapi meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan usaha yang telah dilakukan.
Cara mengamalkan
Berusaha dengan totalitas: Lakukan usaha seolah-olah hasil sepenuhnya bergantung pada usaha itu sendiri. Niatkan untuk beribadah dan mencari ilmu.
Berdoa dengan sungguh-sungguh: Panjatkan doa kepada Allah seolah-olah doa adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan segalanya. Contohnya, berdoa memohon kemudahan dalam menghadapi ujian.
Bertawakal dengan pasrah: Setelah semua usaha dan doa dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.
Hikmah dan manfaat
Hasil yang maksimal: Kombinasi ini akan memberikan hasil terbaik, baik berhasil atau tidak. Jika berhasil, Anda akan mendapat pahala dan hasil usaha. Jika belum berhasil, Anda tetap mendapat pahala karena kesabaran.
Dekat dengan Allah: Doa akan mempererat hubungan dengan Allah SWT, karena kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan atas kelemahan diri.
Keyakinan pada Allah: Tawakal menumbuhkan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhan kita, sesuai dengan firman-Nya: "...Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)..." (QS. At-Thalaq: 3).
Persiapan untuk akhirat: Tawakal juga berarti menerima segala ketentuan Allah dengan ikhlas, sehingga kita bisa lebih siap menghadapi musibah dan mendapatkan pahala di akhirat.
Keselarasan antara doa, usaha (termasuk ikhtiar di dalamnya), dan tawakal memang merupakan formula penting dalam Islam untuk mencapai keseimbangan hidup dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
Berikut adalah penjelasan mengenai kombinasi tersebut:
1. Akarnya adalah, Doa
Doa adalah fondasi dan akar dari kehidupan spiritual. Ia adalah bentuk pengakuan akan ketergantungan kita kepada Allah SWT, permohonan pertolongan, dan manifestasi kerendahan hati. Tanpa akar yang kuat, pohon tidak akan bisa berdiri tegak dan mencari nutrisi. Doa mendasari setiap langkah, memberikan arah, dan memohon keberkahan atas segala upaya.
2. Batang dan Daunnya adalah, Usaha dan Ikhtiar
Batang dan daun melambangkan tindakan nyata dan upaya yang kita lakukan.
Ikhtiar (Batang): Merupakan pilar utama yang menopang seluruh pohon. Ikhtiar adalah usaha yang sungguh-sungguh, terencana, dan penuh keseriusan dalam mencapai tujuan. Ia memberikan struktur dan kekuatan pada proses.
Usaha (Daun): Daun bertugas melakukan fotosintesis, memproses nutrisi, dan menggerakkan pertumbuhan. Usaha adalah aktivitas harian yang konkret, kerja keras, dan pengerahan segala potensi yang dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Islam sangat menekankan pentingnya bekerja keras. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang berusaha mengubahnya.
3. Buah: Tawakal
Tawakal adalah puncak dari proses tersebut, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT setelah melakukan segala upaya terbaik.
Buah melambangkan hasil akhir, ketenangan hati, dan penerimaan atas takdir, baik hasil tersebut sesuai harapan atau tidak. Tawakal bukan berarti pasif, melainkan pasca-usaha. Ini mengajarkan kita untuk melepaskan kekhawatiran dan percaya bahwa apa pun hasilnya adalah yang terbaik menurut kebijaksanaan-Nya.
Penerapan dalam Keseharian
Pentingnya menjalankan ketiganya dalam keseharian adalah untuk menciptakan kehidupan yang seimbang (wasatiyyah):
Menghilangkan Stres: Kombinasi ini membantu mengurangi stres dan kecemasan.
Dengan doa dan usaha maksimal, kita telah melakukan bagian kita. Tawakal melepaskan beban hasil yang di luar kendali kita.
Membangun Mentalitas Progresif: Ini mendorong kita untuk terus berusaha dan tidak mudah putus asa, karena usaha adalah perintah agama.
Mencapai Kebahagiaan Sejati: Kesuksesan sejati dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil duniawi, tetapi dari ridha Allah. Dengan menjalankan formula ini, baik sukses di dunia maupun di akhirat dapat tercapai.
Singkatnya, kita berdoa seolah-olah tidak ada usaha yang bisa kita lakukan, kita berusaha seolah-olah tidak ada doa yang bisa mengubah apa pun, dan kita bertawakal karena kita yakin Allah adalah penentu segalanya.
A.Hubungan antara takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal adalah sebuah siklus yang berkesinambungan: manusia berusaha (ikhtiar) untuk mencapai tujuan, berdoa memohon petunjuk dan pertolongan Allah, lalu berserah diri (tawakal) kepada Allah atas hasil akhirnya, yakin bahwa semua itu sudah dalam takdir-Nya. Manusia diwajibkan berikhtiar karena perintah Allah, karena ikhtiar adalah bagian dari usaha mencapai takdir, dan karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.
Penjelasan hubungan
Takdir: Ketetapan Allah yang tidak dapat diubah secara langsung, tetapi memiliki takdir muallaq (takdir yang bergantung pada usaha manusia).
Ikhtiar: Usaha sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan dengan cara yang baik dan halal. Ikhtiar adalah perintah Allah dan bagian dari proses meraih takdir.
Doa: Bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah, sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan-Nya. Doa dapat mengubah takdir muallaq.
Tawakal: Menyerahkan hasil akhir dari usaha dan doa kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Ini adalah bentuk keyakinan bahwa Allah yang menentukan hasil terbaik.
Mengapa manusia diwajibkan berikhtiar
Perintah Allah: Ikhtiar merupakan perintah langsung dari Allah SWT, sebagai bagian dari menjalankan kehidupan di dunia.
Bagian dari takdir: Ikhtiar adalah cara manusia berinteraksi dengan takdirnya, khususnya takdir muallaq. Allah menetapkan takdir, tetapi manusia juga memiliki peran untuk berusaha mencapainya.
Syarat perubahan nasib: Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'd: 11). Hal ini menekankan pentingnya usaha dari manusia itu sendiri.
Membawa kebaikan: Dengan berikhtiar, manusia menjadi lebih optimis, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas apa pun hasilnya.
Pesan oesan yang disampaikan Usaha, Doa, dan Tawakal. Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11,
إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, kelulusan ujian, kesehatan, dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu usaha secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usaha lahiriah.
Jadi seseorang akan tetap bodoh kalau ia tidak berusaha mengatasi kebodohannya dengan cara mencari ilmu. Seseorang akan tetap hidup sengsara jika ia tidak berikhtiar untuk lepas dari kesengsaraanya, misalnya dengan bekerja keras. Seseorang akan tetap pada watak dan kebiasaannya, seperti pelit, suka iri, malas, pendendam, dan sebagainya, sampai ia berusaha mengubah watak dan kebiasaan tersebut. Seseorang akan tetap sakit sampai ia berusaha mencari kesembuhan dengan cara berobat.
Berikhtiar adalah wajib. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah SWT. Jika ia sabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat.
Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus melakukan doa sebagai usaha batiniah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mukmin, ayat 60:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya”
Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya. Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan.
Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah SWT. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya,
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS al-Mu’min: 60)
Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita lupa berdoa kepada Allah SWT dalam setiap usaha kita meraih sesuatu. Semakin banyak kita berdoa dalam kehidupan kita sehar-hari, semakin dekatlah kita kepada Allah SWT dan tentu ini menjadi hal yang terpuji karena dengan berdoa kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan betapa kecil dan lemahnya kita di depan Allah SWT.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pesan singkat mengenai ikhtiar, doa, dan tawakal menekankan pentingnya ketiga hal ini secara beriringan untuk mencapai kesuksesan, dengan landasan Al-Qur'an dan Hadis. Ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh, doa adalah memohon kepada Allah, dan tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada-Nya setelah berusaha maksimal. Surat Al-Ra'd ayat 11 dan Al-Ghafir ayat 60 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka mengubah dirinya sendiri, dan Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya jika mereka memohon.
1. Ikhtiar (Usaha)
Arab: إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (QS. Ar-Ra'd: 11).
Arti: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka."
Penjelasan: Makna ikhtiar adalah melakukan usaha yang sungguh-sungguh. Ayat ini mengingatkan bahwa usaha adalah langkah pertama yang harus diambil sebelum mengharapkan perubahan.
2. Doa
Arab: ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ (QS. Al-Ghafir: 60).
Arti: "... Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)..."
Penjelasan: Doa adalah sarana memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa dan kemampuan untuk mengabulkan permintaan.
3. Tawakal
Arab: فَإِذَاعَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (QS. Ali Imran: 159).
Arti: "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."
Penjelasan: Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha sekuat tenaga. Ini bukan berarti pasrah, melainkan keyakinan mendalam bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan usaha dan ketentuannya.
Tawakkal adalah sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan segala bentuk ikhtiar atau usaha yang maksimal.
Dalam Islam, tawakkal merupakan salah satu bentuk keyakinan yang mendalam kepada kekuasaan Allah, bahwa hanya Dia yang menentukan hasil dari setiap usaha manusia.
Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi melengkapinya dengan kepercayaan penuh bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak Allah.
1. Pengertian Tawakkal
Tawakkal berasal dari kata "توكّل" yang berarti mengandalkan, berserah diri, atau mempercayakan segala urusan kepada pihak lain. Dalam syariat, tawakkal memiliki makna menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh-Nya. Pengertian ini mengandung dua unsur penting: usaha atau ikhtiar dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."
(QS. At-Talaq: 3)
Ayat ini menunjukkan janji Allah bahwa orang yang bertawakkal kepada-Nya akan dicukupi kebutuhannya. Ini berarti seorang Muslim yang telah berikhtiar maksimal kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah, akan memperoleh ketenangan karena yakin bahwa Allah akan mencukupi segala keperluannya.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
"Cukuplah Allah sebagai wakil (yang mengurus segala urusan)."
(HR. Abu Dawud)
Rasulullah menegaskan bahwa Allah adalah wakil terbaik dalam mengurus urusan manusia. Tawakkal kepada Allah berarti mengakui bahwa hanya Dia yang memiliki kemampuan penuh untuk mengatur dan memberikan hasil yang terbaik dalam setiap usaha.
2. Perintah Tawakkal dalam Al-Qur'an dan Hadits
Allah SWT telah berfirman didalam Al-Qur'an:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal."
(QS. Al-Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa setelah usaha dilakukan dengan tekad yang kuat, seorang mukmin harus menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan demikian, tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan usaha itu harus diikuti dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan hanya kepada Allah-lah kamu harus bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman."
(QS. Al-Maidah: 23)
Ayat ini menegaskan bahwa tawakkal adalah bagian dari iman. Jika seseorang benar-benar beriman, maka ia akan selalu bersandar kepada Allah setelah berusaha. Tawakkal adalah bukti keyakinan bahwa Allah yang mengatur segala sesuatu.
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ
"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore dalam keadaan kenyang."
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menggambarkan bahwa tawakkal tidak berarti pasif. Burung yang disebutkan dalam hadits tetap keluar mencari makanan (usaha), namun ia kembali dalam keadaan kenyang karena Allah yang menjamin rezekinya. Ini adalah contoh bahwa tawakkal harus didahului oleh usaha, dan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
3. Manfaat Dan Urgensi Tawakkal
1. Ketenangan Jiwa
Tawakkal memberikan ketenangan hati karena seorang mukmin yakin bahwa Allah mengatur segala sesuatu.
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
"Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?"
(QS. Az-Zumar: 36)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah cukup untuk mengurus segala urusan hamba-Nya. Dengan bersandar kepada Allah, seseorang tidak akan diliputi kekhawatiran yang berlebihan, karena ia yakin segala sesuatu ada dalam kendali Allah.
2. Mendapatkan Pertolongan Allah
Orang yang bertawakkal kepada Allah akan selalu mendapatkan pertolongan dalam setiap kesulitan.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."
(QS. At-Talaq: 3)
Janji Allah dalam ayat ini sangat jelas, bahwa Dia akan mencukupi orang yang berserah diri kepada-Nya. Ini berarti orang yang bertawakkal akan selalu berada dalam penjagaan Allah, dan rezekinya akan diberikan dari arah yang tidak terduga.
3. Meningkatkan Keimanan
Tawakkal merupakan indikator keimanan seseorang. Tawakkal menunjukkan sejauh mana seseorang percaya kepada kekuasaan Allah.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ... وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka... dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."
(QS. Al-Anfal: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa tawakkal adalah salah satu sifat utama orang yang beriman. Mereka yang bertawakkal selalu mengandalkan Allah dalam setiap urusan mereka, dan ini memperkuat iman mereka.
4. Tahapan-Tahapan dalam Bertawakkal
1. Mengetahui Kekuasaan Allah
Keyakinan penuh terhadap kekuasaan Allah adalah fondasi utama dalam bertawakkal.
قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ
"Katakanlah: semua (urusan) itu dari sisi Allah."
(QS. An-Nisa: 78)
Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu, baik itu kejadian yang menyenangkan maupun yang menyulitkan, semuanya berasal dari Allah. Dengan memahami ini, seseorang akan lebih mudah untuk berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.
2. Melakukan Usaha Maksimal
Tawakkal harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Usaha merupakan bagian integral dari tawakkal.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah."
(QS. Al-Imran: 159)
Setelah seseorang berusaha keras dengan tekad yang kuat, ia harus menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa tawakkal adalah perpaduan antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah.
3. Berserah Diri Sepenuhnya kepada Allah
Setelah berusaha, hasilnya harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah, tanpa keraguan sedikit pun.
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Dan hanya kepada Allah-lah kamu harus bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman."
(QS. Al-Maidah: 23)
Penyerahan diri kepada Allah merupakan ciri orang yang beriman. Setelah berusaha, seorang mukmin yakin bahwa hasil terbaik adalah yang Allah kehendaki.
5. Cara-Cara untuk Bertawakkal
1. Melakukan Ikhtiar yang Benar
Usaha yang dilakukan harus sesuai dengan syariat dan etika Islam.
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menegaskan pentingnya usaha dalam Islam. Tidak ada hasil tanpa usaha, dan usaha yang dilakukan dengan cara yang benar adalah bagian dari tawakkal.
2. Menjaga Hati dari Ketergantungan pada Makhluk
Orang yang bertawakkal harus menjaga hatinya agar tidak tergantung pada makhluk lain.
فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
"Maka janganlah kamu menyembah di samping Allah, sesuatu pun."
(QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa hanya kepada Allah-lah manusia bersandar dan meminta pertolongan. Ketergantungan kepada makhluk lain adalah bentuk kesyirikan kecil jika hal itu mengesampingkan peran Allah dalam urusan hidup. Orang yang bertawakkal tidak boleh berharap kepada selain Allah.
3. Yakin bahwa Allah Maha Penentu Segala Sesuatu
Keyakinan bahwa Allah yang menentukan segala hasil dan keputusan adalah inti dari tawakkal.
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
"Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami."
(QS. At-Taubah: 51)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah dalam ketetapan Allah, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika kita telah melakukan usaha yang terbaik. Tawakkal membuat hati menjadi tenang karena kita yakin bahwa hasil yang Allah berikan adalah yang terbaik bagi kita.
6. Contoh-Contoh Tawakkal dari Kehidupan Nabi dan Para Sahabat
1. Kisah Nabi Ibrahim saat Dilempar ke dalam Api
Salah satu contoh nyata tawakkal adalah ketika Nabi Ibrahim AS akan dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud. Saat itu, Nabi Ibrahim hanya mengucapkan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung."
(HR. Bukhari)
Keyakinan Nabi Ibrahim bahwa Allah akan menolongnya adalah contoh sempurna tawakkal. Meskipun dalam situasi yang sangat berbahaya, beliau tidak mengkhawatirkan keselamatannya, karena telah sepenuhnya berserah diri kepada Allah.
2. Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah
Ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar bersembunyi di gua dalam perjalanan hijrah ke Madinah, pasukan Quraisy hampir menemukan mereka. Saat itu, Abu Bakar khawatir dan Rasulullah SAW menenangkannya dengan mengatakan:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(QS. At-Taubah: 40)
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW sepenuhnya bertawakkal kepada Allah dalam menghadapi situasi yang sangat genting. Keyakinannya bahwa Allah akan menolong menunjukkan bagaimana tawakkal memberi ketenangan dan keyakinan kuat kepada seorang mukmin.
3. Kisah Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash
Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ditugaskan memimpin pasukan Muslim dalam perang, ia selalu bertawakkal kepada Allah sebelum berangkat ke medan pertempuran. Dia mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِينِي وَأَهْلِي
"Ya Allah, aku serahkan diriku, agamaku, dan keluargaku kepada-Mu."
Tawakkal Sa’ad bin Abi Waqqash dalam peperangan menggambarkan keyakinan total kepada Allah. Meskipun berada di medan perang, ia tetap bersandar kepada Allah setelah mempersiapkan dirinya secara maksimal.
7. Dampak Positif Tawakkal dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Menghilangkan Stres dan Kekhawatiran
Orang yang bertawakkal akan terhindar dari stres dan kekhawatiran berlebihan, karena mereka percaya bahwa segala urusan diatur oleh Allah.
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.'”
(QS. Al-Anbiya: 83)
Tawakkal yang dilakukan Nabi Ayyub AS dalam menghadapi penyakit berat menunjukkan bahwa penyerahan diri kepada Allah membawa ketenangan hati meskipun dalam situasi sulit. Dengan tawakkal, seorang mukmin dapat menghadapi cobaan tanpa khawatir atau merasa terbebani.
2. Mendapatkan Rezeki yang Tidak Terduga
Salah satu efek positif dari tawakkal adalah terbukanya pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
(QS. At-Talaq: 2-3)
Orang yang bertawakkal dan bertakwa kepada Allah akan selalu diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, termasuk dalam hal rezeki. Ini adalah janji Allah bagi mereka yang sepenuhnya berserah diri kepada-Nya.
3. Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keteguhan Hati
Tawakkal membuat seseorang memiliki keyakinan yang kuat bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik bagi dirinya, sehingga ia akan lebih teguh dalam menghadapi segala tantangan hidup.
إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu."
(QS. Al-Imran: 160)
Tawakkal kepada Allah memberikan kepercayaan diri bahwa jika Allah bersama kita, tidak ada yang bisa menundukkan atau merugikan kita. Ini mendorong seorang mukmin untuk terus maju dengan keyakinan penuh kepada pertolongan Allah.
8. Tawakkal Sebagai Landasan Etika dalam Kehidupan Muslim
Tawakkal tidak hanya menyangkut aspek spiritual, tetapi juga menjadi landasan dalam bersikap dan berperilaku di berbagai aspek kehidupan. Seorang Muslim yang bertawakkal akan:
1. Menghargai Usaha Sendiri dan Orang Lain
Tawakkal mengajarkan bahwa setelah kita berusaha, kita harus menghormati proses yang sudah dilakukan tanpa meremehkan hasil yang dicapai, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Seorang Muslim yang bertawakkal tidak akan meremehkan kerja keras, tetapi juga tidak sombong dengan hasil yang diperoleh, karena semuanya merupakan ketetapan Allah.
2. Tidak Mudah Putus Asa
Karena seorang yang bertawakkal yakin bahwa hasil akhir adalah keputusan Allah, maka ia tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan. Hal ini karena ia tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar untuk kebaikannya di masa depan.
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa putus asa bukanlah sifat seorang mukmin. Dengan tawakkal, seseorang akan selalu optimis bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari rahmat dan hikmah Allah yang lebih besar.
3. Selalu Optimis dan Berpikiran Positif
Tawakkal membuat seseorang selalu berpikiran positif, karena ia yakin bahwa Allah selalu menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya. Ini membuatnya optimis dalam segala situasi, meskipun menghadapi kesulitan.
Kisah Teladan Tentang Tawakkal
1. Kisah Nabi Musa AS dan Laut Merah
Ketika Nabi Musa AS bersama kaumnya dikejar oleh pasukan Firaun di tepi Laut Merah, kaumnya merasa ketakutan dan khawatir akan keselamatan mereka. Pasukan Firaun berada di belakang, sementara laut yang luas berada di hadapan mereka. Dalam situasi yang tampaknya mustahil untuk selamat, Nabi Musa menunjukkan tawakkalnya kepada Allah dengan penuh keyakinan, beliau berkata:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
"Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."
(QS. Ash-Shu’ara: 62)
Dengan izin Allah, Laut Merah terbelah, membuka jalan bagi Nabi Musa dan kaumnya untuk melarikan diri. Setelah mereka melewati laut, Allah menutup kembali laut tersebut dan menenggelamkan pasukan Firaun. Keutamaan tawakkal Nabi Musa ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berserah diri kepada Allah, Allah akan memberi jalan keluar dari situasi yang paling sulit sekalipun.
2.Kisah Maryam Binti Imran: Tawakkal dalam Keterasingan
Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS, adalah wanita salehah yang hidup dengan penuh keimanan kepada Allah. Ketika ia mengandung Nabi Isa tanpa pernah disentuh oleh laki-laki, hal ini menjadi ujian besar baginya. Dalam keterasingan dan kekhawatiran atas tuduhan masyarakat, ia tetap bertawakkal kepada Allah. Allah berfirman kepada Maryam saat ia sedang kesakitan karena melahirkan:
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."
(QS. Maryam: 25)
Dengan tawakkal kepada Allah, Maryam mampu melalui masa sulit tersebut, dan Allah menolongnya dengan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kisah ini menunjukkan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bertawakkal, khususnya dalam situasi sulit.
3. Kisah Sahabat Salman Al-Farisi:Tawakkal dalam Mencari Kebenaran
Salman Al-Farisi adalah seorang sahabat yang dikenal karena perjuangannya dalam mencari kebenaran. Awalnya, ia adalah seorang penganut agama Zoroastrianisme (penyembah api), tetapi ia tidak merasa puas dengan agamanya. Dengan tawakkal dan niat yang kuat, Salman meninggalkan negerinya dan berpetualang mencari agama yang benar, yang akhirnya mengantarkannya kepada Islam.
Ia diperbudak dan melalui berbagai cobaan berat, namun tetap bertawakkal kepada Allah. Perjalanan panjang dan penuh ujian tersebut akhirnya berakhir ketika ia bertemu dengan Rasulullah SAW, yang menyampaikan Islam kepadanya. Salman kemudian menjadi salah satu sahabat besar yang dihormati karena keilmuannya dan perjuangannya dalam mencari kebenaran.
Kisah Salman menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah dalam pencarian kebenaran akan memberikan petunjuk dan pertolongan yang luar biasa, bahkan dalam kondisi yang tampaknya mustahil.
Kesimpulan :
Tawakkal adalah perpaduan antara usaha yang maksimal dan penyerahan diri kepada Allah. Tawakkal merupakan pilar penting dalam kehidupan seorang mukmin, yang memberikan ketenangan hati, rezeki yang tak terduga, dan kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dengan bertawakkal, seorang Muslim tidak hanya menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan kepada Allah, tetapi juga memiliki landasan etika yang kuat dalam menghargai usaha dan menghadapi segala bentuk cobaan.
Semoga kita semua diberikan hidayah ku gusti allah…
Mari kita berdoa…
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ،
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
